Kondisi tersebut dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi di wilayah hulu Sungai Lusi dalam beberapa hari terakhir, ditambah kapasitas tampung sungai yang menurun akibat sedimentasi dan limpasan air permukaan. Dampaknya, sejumlah ruas jalan lingkungan dan akses antardukuh tergenang, memaksa warga menyesuaikan aktivitas harian, termasuk distribusi logistik skala rumah tangga dan akses menuju fasilitas pendidikan serta layanan kesehatan.
Kepala BPBD Kabupaten Grobogan menyampaikan bahwa pihaknya telah mengerahkan tim reaksi cepat untuk melakukan pemantauan lapangan, pendataan dampak, serta pemasangan rambu peringatan di titik-titik rawan. “Kami menempatkan petugas untuk memastikan arus lalu lintas lokal tetap terkendali dan membantu warga melintas dengan aman. Selain itu, kami berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk kesiapsiagaan evakuasi jika terjadi peningkatan debit secara signifikan,” ujarnya.
Dalam perspektif kehumasan kebencanaan dan metrologi, BPBD menekankan pentingnya pendekatan berbasis data hidrometeorologi. Pengukuran tinggi muka air (TMA) dilakukan secara berkala untuk memantau tren kenaikan debit, sementara informasi cuaca dan curah hujan regional menjadi dasar penetapan status siaga. Sinergi lintas sektor, termasuk dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, terus diperkuat guna memastikan peringatan dini tersampaikan tepat waktu kepada masyarakat.
BPBD juga mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat melintasi jalan tergenang pada malam hari. Pengendara sepeda motor diminta menghindari genangan dengan arus deras dan memperhatikan kondisi mesin serta rem. Masyarakat di bantaran sungai diharapkan menyiapkan langkah antisipatif, seperti mengamankan barang berharga ke tempat yang lebih tinggi dan memantau informasi resmi dari pemerintah daerah.
Hingga laporan ini disusun, tidak terdapat laporan korban jiwa. Namun, aktivitas ekonomi skala mikro dan aksesibilitas warga masih terdampak. Pemerintah daerah memastikan bahwa langkah penanganan darurat, komunikasi publik yang transparan, serta pemutakhiran data lapangan akan terus dilakukan. Upaya normalisasi aliran sungai dan penguatan kapasitas drainase menjadi bagian dari agenda jangka menengah untuk mengurangi risiko banjir berulang di wilayah Tawangharjo dan sekitarnya.
Punkasnya,Mukti.nur.



