MNI|Demak, 24 Juli 2026 – Suasana religius dan penuh kekhidmatan menyelimuti Desa Mutih Kulon, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, saat ribuan masyarakat mengikuti Haul Syekh Abdurrahman Al-Bar. Kegiatan tahunan yang digelar setiap usai musim panen padi tersebut tidak hanya menjadi momentum mengenang jasa seorang ulama penyebar syiar Islam, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki yang diberikan Allah SWT melalui hasil pertanian.
Haul Syekh Abdurrahman Al-Bar telah berkembang menjadi salah satu tradisi keagamaan yang mengakar kuat dalam kehidupan sosial masyarakat pesisir utara Demak. Pelaksanaannya selalu dinantikan karena memadukan nilai-nilai spiritual, budaya, serta semangat mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Menurut para sesepuh desa, tradisi ini berawal dari kebiasaan masyarakat Mutih Kulon yang sejak dahulu mengadakan makan bersama setelah panen raya sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT. Hasil panen yang melimpah dianggap sebagai nikmat yang harus disyukuri melalui kebersamaan bersama keluarga, kerabat, dan tetangga.
Tradisi makan bersama tersebut kemudian mengalami perkembangan. Para tokoh masyarakat bersama para ulama bermusyawarah untuk memberikan makna keagamaan yang lebih mendalam terhadap kegiatan syukuran panen. Dari hasil musyawarah itu disepakati agar tradisi tersebut dipadukan dengan penyelenggaraan haul serta pembacaan tahlil dan doa bersama bagi Syekh Abdurrahman Al-Bar yang makamnya berada di Desa Mutih Kulon.
Keputusan tersebut menjadikan tradisi syukuran panen tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga menjadi media memperkuat keimanan, mempererat ukhuwah Islamiyah, sekaligus menjaga warisan sejarah Islam yang telah hidup turun-temurun di tengah masyarakat.
Keberadaan makam Syekh Abdurrahman Al-Bar diyakini telah ada sejak masa Kerajaan Shima di wilayah Jepara pada masa lampau. Oleh karena itu, masyarakat memandang beliau sebagai salah satu tokoh penyebar ajaran Islam yang memiliki jasa besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di kawasan pesisir utara Jawa.
Setiap pelaksanaan haul, masyarakat dari berbagai desa turut berdatangan untuk mengikuti rangkaian kegiatan. Tidak hanya warga Mutih Kulon, tetapi juga jamaah dari Desa Kendalasem, Tedunan, Bungo, Wedung, Betahwalang, Surodadi, hingga berbagai daerah lainnya memadati area makam dan lokasi pengajian.
Mereka mengikuti pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, tahlil, doa bersama, serta pengajian yang mengingatkan pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, menjaga persatuan umat, dan meneladani akhlak para ulama dalam kehidupan sehari-hari.
Di kalangan masyarakat, Syekh Abdurrahman Al-Bar dikenal sebagai sosok alim, tawadhu, dan istiqamah dalam berdakwah. Hingga kini, masyarakat masih meyakini adanya karamah beliau sebagai anugerah yang diberikan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang saleh.
Keyakinan tersebut mendorong banyak masyarakat datang untuk bertawasul melalui doa kepada Allah SWT dengan menjadikan Syekh Abdurrahman Al-Bar sebagai wasilah, seraya memohon agar diberikan kemudahan dalam berbagai urusan kehidupan, mulai dari kesehatan, keselamatan, kelancaran rezeki, hingga keberkahan bagi keluarga.
Banyak warga mengaku memperoleh ketenangan batin setelah mengikuti haul dan berziarah ke makam beliau. Bagi masyarakat, kegiatan tersebut bukanlah semata-mata ritual tahunan, melainkan momentum memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui doa, dzikir, dan penghormatan kepada para ulama yang telah berjasa menyebarkan ajaran Islam.
Selain memiliki nilai religius, Haul Syekh Abdurrahman Al-Bar juga memberikan dampak sosial yang positif. Momentum ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi, mempererat persaudaraan antarwarga desa, serta memperkuat semangat gotong royong dalam mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.
Semangat kebersamaan terlihat sejak jauh hari sebelum pelaksanaan haul. Warga bergotong royong membersihkan lingkungan makam, menyiapkan konsumsi, mendirikan tenda, hingga menyambut para tamu dan jamaah yang datang dari berbagai daerah. Tradisi tersebut mencerminkan kuatnya nilai solidaritas yang masih terjaga di tengah masyarakat Mutih Kulon.
Pelaksanaan haul juga menjadi sarana pelestarian sejarah lokal agar generasi muda mengenal jejak perjuangan para ulama terdahulu. Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, rasa syukur, dan kecintaan terhadap agama dapat terus diwariskan kepada anak cucu sebagai bagian dari identitas budaya religius masyarakat Demak.
Haul Syekh Abdurrahman Al-Bar membuktikan bahwa tradisi lokal dapat berjalan selaras dengan nilai-nilai keislaman. Dari sebuah tradisi syukuran panen, lahirlah sebuah warisan spiritual yang hingga kini terus hidup, menjadi perekat persaudaraan, memperkuat keimanan, sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah SWT.
Red aji.


.jpg)