MNI|Grobogan – Sinergi antara TNI dan lembaga pendidikan keagamaan kembali diwujudkan melalui pembinaan karakter generasi muda. Babinsa Koramil 19/Tanggungharjo Kodim 0717/Grobogan, Serka Masbuhin, memberikan pembekalan bertajuk "Leadership and Management" kepada jajaran pengurus baru Pondok Pesantren Attaufiiqiyyah, Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, tanggung jawab, serta semangat pengabdian. Di lingkungan pesantren, kepemimpinan bukan sekadar menjalankan amanah organisasi, tetapi juga menjadi media pembentukan akhlak mulia dan keteladanan yang akan diwariskan kepada seluruh santri.
Sekitar 40 pengurus baru Pondok Pesantren Attaufiiqiyyah mengikuti pembekalan dengan penuh antusias. Selama sesi berlangsung, peserta memperoleh pemahaman mengenai prinsip-prinsip dasar kepemimpinan, manajemen organisasi, pentingnya disiplin dalam menjalankan amanah, hingga implementasi 11 asas kepemimpinan sebagai pedoman dalam mengelola kehidupan pesantren secara efektif dan harmonis.
Dalam penyampaiannya, Serka Masbuhin menegaskan bahwa seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan sebelum memberikan teladan kepada orang lain. Kepemimpinan yang baik lahir dari integritas, keikhlasan, kemampuan mengelola diri, serta kesediaan melayani dengan penuh tanggung jawab.
Menurutnya, pengurus pondok pesantren memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara pengasuh dan para santri. Karena itu, setiap keputusan, sikap, maupun perilaku pengurus akan menjadi cerminan nilai-nilai pendidikan yang berkembang di lingkungan pesantren.
"Menjadi pemimpin berarti siap memikul amanah. Kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang keteladanan, pelayanan, serta kemampuan menghadirkan solusi bagi lingkungan sekitar," ungkapnya di hadapan para peserta.
Lebih lanjut disampaikan bahwa karakter disiplin merupakan pondasi utama dalam membangun organisasi yang sehat. Disiplin tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga kemampuan mengelola waktu, menyelesaikan tugas secara konsisten, serta menjaga komitmen terhadap amanah yang telah diberikan.
Di lingkungan pesantren, nilai-nilai tersebut memiliki dimensi spiritual yang sangat kuat. Kedisiplinan menjadi bagian dari pendidikan akhlak, sedangkan kepemimpinan dipahami sebagai bentuk ibadah yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan dan rasa tanggung jawab kepada Allah SWT.
Melalui pembekalan tersebut, para pengurus baru diharapkan mampu mengembangkan karakter kepemimpinan yang kokoh, memiliki wawasan kebangsaan, menjunjung tinggi nilai persaudaraan, serta mampu menciptakan lingkungan pesantren yang kondusif, religius, tertib, dan produktif.
Pembinaan semacam ini juga menjadi wujud nyata kemanunggalan TNI dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan pondok pesantren. Kehadiran Babinsa tidak hanya berfokus pada aspek pertahanan wilayah, tetapi juga berperan aktif dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan karakter dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Di tengah dinamika kehidupan sosial yang terus berkembang, pondok pesantren tetap menjadi benteng moral bangsa. Dari lingkungan pesantren lahir generasi yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kekuatan spiritual, integritas moral, dan semangat pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara.
Karena itu, sinergi antara TNI dan lembaga pendidikan Islam menjadi investasi strategis dalam membentuk generasi pemimpin masa depan yang mampu menghadapi berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai insan beriman, berakhlakul karimah, dan cinta Tanah Air.
Melalui kegiatan pembinaan kepemimpinan tersebut, diharapkan para pengurus Pondok Pesantren Attaufiiqiyyah mampu mengemban amanah dengan profesional, menjadi teladan bagi santriwan dan santriwati, serta mengimplementasikan nilai-nilai Islam yang moderat, disiplin, dan penuh tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat kepemimpinan yang dibangun di lingkungan pesantren pada akhirnya diharapkan melahirkan kader-kader umat yang mampu menjadi pelopor kebaikan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, menjaga persatuan bangsa, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia yang religius, damai, dan berkeadaban.
Punkasnya,Shabar.aji.


.jpg)