Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Banjir Rendam 9 Desa di Demak, Polres Intensifkan Penanganan Pascabencana dan Pemulihan Sosia

Selasa, 07 April 2026 | April 07, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-07T01:17:09Z


MNI|DEMAK – Aparat kepolisian melalui Polres Demak mengakselerasi langkah penanganan pascabanjir menyusul jebolnya tanggul Sungai Tuntang yang memicu genangan luas di sejumlah wilayah permukiman warga. Peristiwa yang terjadi pada Jumat (3/4/2026) sekitar pukul 08.00 WIB di Desa Trimulyo dan Desa Sidoharjo, Kecamatan Guntur, tersebut menjadi salah satu bencana hidrometeorologi signifikan yang berdampak sistemik terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Kapolres Demak, Arrizal Samelino Gandasaputra, menegaskan bahwa pendekatan penanganan tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga mencakup strategi pemulihan sosial berbasis kolaborasi lintas sektoral. Menurutnya, institusi kepolisian bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya tengah mengoptimalkan seluruh sumber daya guna memastikan percepatan rehabilitasi wilayah terdampak.

“Penanganan pascabanjir menjadi prioritas kami secara komprehensif, mulai dari evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, hingga percepatan pemulihan lingkungan dan stabilitas sosial masyarakat,” ujar AKBP Arrizal dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).

Banjir yang dipicu oleh meningkatnya debit air akibat curah hujan tinggi di wilayah hulu sejak Kamis malam tersebut mengakibatkan tanggul sungai jebol di tiga titik krusial. Dampaknya meluas hingga sembilan desa di empat kecamatan, yakni Kecamatan Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung.

Di Kecamatan Guntur, lima desa terdampak meliputi Trimulyo, Sidoharjo, Tlogorejo, Turirejo, dan Sumberejo. Sementara genangan juga meluas ke Desa Ploso (Karangtengah), Desa Lempuyang (Wonosalam), serta Desa Solowire dan Sarimulyo (Kebonagung). Ribuan warga terpaksa mengungsi ke titik-titik aman yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah.

Dalam kerangka tanggap darurat, Polres Demak mengerahkan Pasukan Siaga Bhayangkara untuk melakukan evakuasi prioritas terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak, lanjut usia, dan ibu hamil. Langkah ini menjadi bagian dari pendekatan humanis Polri dalam mitigasi dampak bencana.

Selain evakuasi, pendirian posko siaga banjir dilakukan sebagai pusat koordinasi terpadu guna memastikan efektivitas distribusi bantuan logistik. Bantuan yang disalurkan meliputi makanan siap saji, air bersih, selimut, serta kebutuhan pokok lainnya yang sangat dibutuhkan para pengungsi.

Dalam aspek pelayanan kesehatan, aparat kepolisian turut menghadirkan layanan medis gratis yang mencakup pemeriksaan kesehatan, pemberian obat-obatan, hingga penanganan awal terhadap penyakit yang berpotensi muncul akibat kondisi pascabanjir, seperti infeksi saluran pernapasan dan penyakit kulit.

Tidak hanya itu, intervensi psikososial juga menjadi perhatian serius melalui pelaksanaan program trauma healing, khususnya bagi anak-anak dan warga yang mengalami tekanan mental akibat bencana. Upaya ini dinilai krusial dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat pascabencana.

Untuk menopang kebutuhan logistik secara berkelanjutan, dapur umum didirikan dan dioperasikan secara intensif dengan dukungan lintas instansi. Distribusi makanan dilakukan secara terorganisir ke berbagai titik pengungsian, disertai penyaluran bantuan sosial sebagai bentuk kehadiran negara dalam situasi krisis.

Memasuki fase pemulihan, aparat gabungan melakukan kerja bakti membersihkan fasilitas umum, saluran air, serta lingkungan permukiman warga dari material lumpur dan sampah pascabanjir. Normalisasi akses jalan dan pengaturan lalu lintas juga diterapkan guna menjamin kelancaran mobilitas serta distribusi bantuan.


Kapolres menegaskan bahwa sinergi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) akan terus diperkuat hingga kondisi benar-benar pulih. Di sisi lain, patroli keamanan ditingkatkan untuk mencegah potensi gangguan kamtibmas, termasuk tindak kriminalitas di rumah-rumah warga yang ditinggalkan selama masa pengungsian.

“Komitmen kami adalah memastikan masyarakat tidak hanya selamat dari bencana, tetapi juga dapat kembali menjalani aktivitas secara aman, tertib, dan produktif. Negara harus hadir secara nyata dalam setiap fase penanganan bencana,” tegasnya.

Dengan pendekatan terintegrasi antara aspek kemanusiaan, keamanan, dan pemulihan sosial, penanganan banjir di Kabupaten Demak diharapkan mampu menjadi model respons


bencana yang adaptif, responsif, dan berorientasi pada ketahanan masyarakat jangka panjang.

Punkasnya,Munthohar,Aji.

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update