Dalam agenda peninjauan tersebut, Menko Pangan didampingi oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wakil Bupati Ibnu Hajar, serta jajaran pemerintah daerah dan instansi terkait. Rombongan mengunjungi beberapa sekolah, di antaranya SMA Negeri 1 Jepara, SMK Negeri 3 Jepara, dan MAN 1 Jepara, untuk melihat secara langsung proses distribusi serta konsumsi makanan bergizi bagi para pelajar.
Dalam keterangannya kepada awak media, Menko Pangan menyampaikan bahwa secara umum pelaksanaan program MBG di sekolah-sekolah umum, baik negeri maupun swasta, telah berjalan dengan baik dan memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan pemerintah. Program tersebut, menurutnya, juga mendapatkan respons positif dari para siswa yang menjadi penerima manfaat.
“Secara umum pelaksanaan program berjalan sangat baik. Anak-anak terlihat senang dan antusias menerima makanan bergizi yang disediakan. Ini menunjukkan program ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para pelajar,” ujar Menko usai melakukan dialog interaktif dengan para siswa.
Ia menjelaskan bahwa cakupan program MBG di sekolah umum seperti SMP dan SMA saat ini telah mencapai sekitar 97 persen secara nasional. Capaian tersebut menunjukkan bahwa sistem distribusi dan koordinasi antarinstansi telah berjalan efektif dalam menjangkau mayoritas satuan pendidikan umum.
Namun demikian, Menko Pangan mengakui bahwa implementasi program di lembaga pendidikan berbasis keagamaan, seperti madrasah dan pondok pesantren, masih memerlukan percepatan. Hingga saat ini, cakupan layanan di sektor tersebut baru berkisar antara 10 hingga 20 persen.
Menurutnya, salah satu faktor utama yang menjadi kendala adalah persoalan validitas dan kelengkapan data peserta didik. Berbeda dengan sekolah umum yang telah memiliki sistem pendataan relatif terintegrasi, sejumlah madrasah dan pesantren masih membutuhkan proses penyesuaian dalam pengumpulan serta sinkronisasi data siswa atau santri.
“Masalah utamanya adalah pendataan. Di sekolah umum data siswa sudah relatif lengkap sehingga distribusi program bisa berjalan lebih cepat. Sementara di beberapa madrasah dan pondok pesantren, data santri masih perlu dilengkapi agar dapat segera masuk dalam sistem layanan program,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menko Pangan juga menyempatkan diri memberikan motivasi edukatif kepada para pelajar. Ia mengajak siswa untuk memahami proses panjang perjalanan makanan sebelum sampai ke meja makan, mulai dari tahapan produksi bahan pangan oleh para petani, proses distribusi, hingga pengolahan makanan.
Melalui penjelasan tersebut, ia berharap para siswa dapat semakin menghargai makanan serta membangun kesadaran untuk tidak menyia-nyiakan makanan yang telah disediakan. Selain itu, ia menekankan bahwa konsumsi makanan bergizi merupakan faktor penting dalam menunjang pertumbuhan fisik, kesehatan tubuh, serta perkembangan kognitif generasi muda.
Sementara itu, Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap peningkatan kualitas gizi pelajar melalui program MBG. Menurutnya, program tersebut merupakan langkah strategis dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah.
“Program ini sangat penting karena menyentuh kebutuhan dasar anak-anak kita. Ketika kebutuhan gizi mereka terpenuhi dengan baik, maka proses belajar akan berjalan lebih optimal dan pada akhirnya akan meningkatkan kualitas generasi muda Jepara,” ujar Witiarso.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Jepara berkomitmen untuk mendukung penuh pelaksanaan program tersebut, termasuk melalui penguatan koordinasi lintas sektor guna memastikan seluruh sekolah di wilayahnya dapat segera terlayani.
Pemkab Jepara, lanjutnya, juga terus berupaya mempercepat proses pendataan di berbagai lembaga pendidikan, termasuk madrasah dan pondok pesantren, agar seluruh peserta didik dapat memperoleh manfaat dari program nasional tersebut secara merata.
Di sisi lain, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara, Akhsan Muhyiddin, mengungkapkan bahwa jumlah madrasah di wilayah Kabupaten Jepara, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga Madrasah Aliyah (MA), baik negeri maupun swasta, mencapai sekitar 580 lembaga pendidikan.
Dari total jumlah tersebut, sekitar 90 persen madrasah telah mendapatkan layanan program MBG, sementara sekitar 10 persen lainnya masih dalam tahap pendataan serta penyesuaian administratif agar dapat segera terintegrasi ke dalam sistem distribusi program.
“Salah satunya adalah MAN 1 Jepara yang hari ini dikunjungi oleh Menko Bidang Pangan. Insyaallah setelah Lebaran nanti sudah dapat layanan MBG karena sudah masuk dalam data SPPG,” jelasnya.
Akhsan berharap ke depan seluruh madrasah di Kabupaten Jepara dapat terlayani oleh program unggulan pemerintah yang menjadi bagian dari visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan gizi nasional serta meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia.
Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi para siswa, ia meyakini kualitas pembelajaran di lingkungan madrasah akan semakin meningkat, sekaligus mendorong lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi di masa depan.
“Harapan kami seluruh madrasah dapat memperoleh layanan MBG. Jika kebutuhan gizi siswa terpenuhi dengan baik, tentu akan berdampak langsung pada kualitas belajar serta prestasi mereka,” pungkasnya.Aji.tim.



