Lulus melalui jalur Rekrutmen Proaktif (Rekpro) Hafidz Al-Qur’an, Bripda Salma telah menuntaskan hafalan 30 juz sejak masa sekolah. Namun, capaian tersebut tidak menjadikannya berpuas diri. Di tengah rutinitas kedinasan sebagai anggota polisi perairan, ia justru menapaki cabang keilmuan Al-Qur’an yang lebih mendalam, yakni Qirā’ah Sab‘ah—ilmu tentang tujuh ragam bacaan Al-Qur’an yang memiliki sanad bersambung hingga Rasulullah SAW.
Bagi Bripda Salma, mendalami Qirā’ah Sab‘ah bukan sekadar pengayaan akademik, melainkan bentuk tanggung jawab moral dalam menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an. Terlebih di bulan Ramadhan, momentum spiritual tersebut menjadi pendorong untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui penguatan sanad dan ketepatan kaidah bacaan.
“Saya ingin mendalami ilmu Al-Qur’an yang bersanad sampai Rasulullah SAW agar ilmunya terus terjaga dan tidak hilang. Dengan memahami perbedaan qirā’ah, umat dapat terhindar dari sikap saling menyalahkan karena ketidaktahuan,” ungkapnya dengan penuh keteguhan.
Di sela tugas dinas yang berlangsung dari Senin hingga Jumat, Bripda Salma memanfaatkan akhir pekan untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren At-Taufiiqiyyah, Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Pondok pesantren yang dikenal fokus dalam bidang tahfidzul Qur’an tersebut menjadi tempatnya menyetorkan hafalan dan memperdalam variasi bacaan sesuai kaidah tajwid serta sanad yang otentik.
Di bawah bimbingan pengasuh pondok, Kyai Zaenal Arifin, M.Pd., proses pembelajaran dilakukan secara disiplin melalui setoran rutin dan koreksi bacaan secara detail. Setiap perbedaan dialek, panjang pendek harakat, hingga makhraj huruf dipastikan sesuai dengan riwayat qirā’ah yang dipelajari.
“Tantangannya tentu membagi waktu setelah berdinas untuk menyiapkan setoran. Tetapi saya niatkan untuk mengisi hari libur dengan hal yang bermanfaat dan bernilai ibadah,” tuturnya.
Komitmen tersebut mencerminkan paradigma pengabdian yang utuh: menjaga keamanan wilayah perairan sebagai amanah konstitusional, sekaligus menjaga nilai-nilai Al-Qur’an sebagai amanah spiritual. Dalam perspektif pendidikan karakter, langkah Bripda Salma menunjukkan integrasi harmonis antara profesionalisme, literasi keagamaan, dan pembinaan diri.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan ketekunan yang ditunjukkan anggotanya. Menurutnya, pengembangan kapasitas personal, baik dalam aspek intelektual maupun spiritual, merupakan bagian penting dalam membentuk insan Bhayangkara yang berintegritas.
“Kami bangga dengan anggota yang terus meningkatkan kapasitas diri, termasuk dalam bidang keagamaan. Keteladanan seperti ini menunjukkan bahwa profesionalisme dan nilai-nilai spiritual dapat berjalan beriringan,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menekankan bahwa institusi kepolisian mendorong setiap personel untuk mengembangkan potensi diri secara komprehensif. Keseimbangan antara kompetensi teknis, kedewasaan emosional, serta kedalaman spiritual diyakini mampu memperkuat kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Kisah Bripda Salma menjadi refleksi bahwa di balik seragam dan tanggung jawab menjaga ketertiban, terdapat komitmen pribadi untuk terus belajar dan bertumbuh. Ramadhan bukan hanya momentum meningkatkan intensitas ibadah, tetapi juga memperdalam pemahaman terhadap sumber ajaran Islam secara ilmiah dan bertanggung jawab.
Menjaga perairan adalah amanah negara. Menjaga Al-Qur’an adalah amanah iman. Melalui ketekunan dan integritasnya, Bripda Salma membuktikan bahwa keduanya dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, dan menghadirkan teladan inspiratif bagi generasi muda Indonesia—bahwa pengabdian profesional dan kecintaan terhadap ilmu agama bukanlah dua kutub yang terpisah, melainkan satu kesatuan nilai dalam membangun karakter bangsa.
Punkasnya,Eko.Mukti.



