MNI|Jepara – Tradisi Pesta Lomban Syawalan di Jepara tahun 2026 menghadirkan nuansa baru yang sarat nilai kultural dan spiritual. Kirab kerbau bule yang diarak sejauh lebih dari satu kilometer sukses menjadi magnet utama, menyedot perhatian ribuan masyarakat serta memperkuat eksistensi tradisi pesisir yang telah mengakar turun-temurun.
Prosesi kirab dimulai dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jobokuto menuju Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Rusunawa Jepara pada Jumat (27/3). Rute tersebut dipadati masyarakat yang antusias menyaksikan arak-arakan, terlebih saat rombongan melintasi kawasan ikonik Jembatan Cinta Jepara yang menjadi titik konsentrasi keramaian.
Bupati Jepara Witiarso Utomo bersama Wakil Bupati M Ibnu Hajar, Sekretaris Daerah Ary Bachtiar, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turut hadir dan berbaur langsung dengan masyarakat. Kehadiran unsur pimpinan daerah ini mencerminkan komitmen kuat pemerintah dalam menjaga keberlanjutan tradisi lokal sebagai bagian dari identitas sosial dan budaya daerah.
Dalam perspektif kehumasan pemerintahan, kirab kerbau bule tahun ini tidak hanya berfungsi sebagai atraksi budaya, namun juga menjadi instrumen strategis dalam membangun citra positif daerah. Visualisasi kerbau bule berukuran besar dengan dominasi warna putih menghadirkan daya tarik visual yang kuat sekaligus memperkuat narasi simbolik yang diusung.
Antusiasme masyarakat tampak meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu warga, Retno (40), mengungkapkan ketertarikannya terhadap keunikan kirab kali ini. Ia mengaku telah menunggu sejak pagi demi menyaksikan secara langsung kemegahan kerbau bule yang sebelumnya hanya ia dengar dari kabar masyarakat.
“Sudah menunggu sejak pagi. Ternyata kerbaunya sangat gagah, besar, dan berbeda dari biasanya. Semoga membawa berkah bagi masyarakat,” ujarnya.
Bupati Witiarso Utomo dalam keterangannya menegaskan bahwa Kirab Kerbau Pesta Lomban bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan manifestasi nilai-nilai budaya masyarakat pesisir yang sarat makna filosofis dan religius.
“Kirab ini merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir Jepara yang harus dijaga dan dilestarikan. Kehadiran kerbau bule tahun ini melambangkan semangat baru serta kekuatan besar dalam membangun daerah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menekankan aspek transparansi dan pelurusan persepsi publik terkait prosesi larung. Menurutnya, kirab ini menjadi simbol keterbukaan bahwa hewan yang akan dilarung merupakan satu kesatuan utuh, bukan sekadar bagian tertentu.
Momentum kebangkitan kembali tradisi ini juga memiliki nilai historis tersendiri. Setelah terakhir dilaksanakan pada tahun 2019, Kirab Kerbau Pesta Lomban kembali digelar pada 2026 sebagai refleksi kuatnya komitmen masyarakat dalam “nguri-uri” budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Dalam kerangka pembangunan daerah, Pemerintah Kabupaten Jepara juga memandang tradisi ini sebagai potensi pengungkit ekonomi berbasis budaya. Optimalisasi pengelolaan event diharapkan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal, khususnya sektor pariwisata dan UMKM.
Sebagai penutup, Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi tersebut. Pesta Lomban Syawalan, menurutnya, merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki laut, sekaligus doa kolektif bagi keselamatan dan kesejahteraan para nelayan.
Dengan sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan seluruh warga, tradisi kirab kerbau bule diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan
budaya, tetapi juga berkembang menjadi ikon pariwisata religius yang berdaya saing nasional serta berkelanjutan bagi generasi mendatangPunkasnya,Kerja tim.




