Kapolres menegaskan bahwa eksistensi dan citra institusi Polres Demak sangat ditentukan oleh kualitas kehadiran Bhabinkamtibmas di tengah masyarakat. Sebagai personel yang bersentuhan langsung dengan warga di desa binaan, Bhabinkamtibmas dinilai menjadi representasi utama wajah Polri dalam pelayanan publik tingkat akar rumput.
“Baik atau buruknya citra Polres Demak bergantung pada bagaimana Bhabinkamtibmas hadir dan memberikan solusi atas persoalan masyarakat,” ujar AKBP Arrizal Samelino Gandasaputra.
Menurutnya, Ramadan semestinya menjadi momentum penguatan nilai spiritualitas, solidaritas sosial, dan harmoni antarwarga. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan sejumlah fenomena yang berpotensi mengganggu ketertiban umum apabila tidak dikelola secara bijak dan terukur.
Salah satu perhatian utama adalah tren sahur on the road (STR) yang disertai penggunaan pengeras suara berlebihan atau yang kerap disebut “sound horeg”. Tradisi membangunkan sahur yang sejatinya sarat nilai kebersamaan, dalam sejumlah kasus justru bertransformasi menjadi ajang unjuk kekuatan audio yang mengganggu kenyamanan warga serta berpotensi memicu gesekan antarkelompok.
Kapolres juga menyoroti fenomena perang sarung yang mengalami pergeseran makna. Jika dahulu sebatas permainan tradisional, kini di beberapa wilayah ditemukan indikasi penggunaan benda keras hingga batu yang berisiko menimbulkan cedera serius. Situasi tersebut, menurutnya, tidak dapat dibiarkan karena menyangkut keselamatan generasi muda.
Selain itu, peredaran minuman keras, penggunaan petasan berdaya ledak tinggi, serta aksi balap liar di jalan raya menjadi variabel gangguan kamtibmas yang harus diantisipasi secara sistematis. Aktivitas tersebut bukan hanya melanggar norma hukum, tetapi juga berpotensi menimbulkan korban jiwa serta kerugian materiil.
Menghadapi potensi gangguan tersebut, Kapolres menginstruksikan seluruh Bhabinkamtibmas untuk mengedepankan langkah preemtif dan preventif melalui pendekatan komunikasi sosial. Koordinasi dengan tokoh agama, tokoh pemuda, serta perangkat desa harus diintensifkan guna mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kesucian Ramadan.
Bhabinkamtibmas juga diminta melakukan pemetaan wilayah rawan, khususnya titik-titik yang kerap menjadi lokasi berkumpulnya remaja menjelang sahur maupun selepas salat Subuh. Sinergi dengan Babinsa dan kepala desa dinilai krusial, termasuk optimalisasi kembali pos kamling sebagai instrumen deteksi dini berbasis partisipasi masyarakat.
“Kedepankan pembinaan. Namun apabila tetap terjadi pelanggaran hukum, lakukan penindakan secara tegas dan humanis sesuai prosedur yang berlaku,” tegasnya.
Dalam arahannya, AKBP Samel kembali mengingatkan personel agar memedomani commander wish Kapolres Demak yang dirumuskan dalam akronim WALI (Waspada, Amanah, Lugas, Inovatif).
Waspada dimaknai sebagai kepekaan terhadap setiap potensi gangguan keamanan dan dinamika sosial di lingkungan masyarakat. Amanah menuntut pelaksanaan tugas secara jujur dan bertanggung jawab demi menjaga kepercayaan publik. Lugas berarti tegas, jelas, dan tidak berbelit dalam bertutur kata maupun bertindak. Sementara Inovatif menuntut adaptasi kreatif, termasuk dalam pengembangan pelayanan publik berbasis teknologi dan prinsip presisi.
Kapolres menekankan bahwa kehadiran aparat kepolisian harus mampu memberikan rasa aman sekaligus menyelesaikan keluhan masyarakat secara cepat, transparan, dan berkeadilan.
“Kepercayaan publik dijaga bukan hanya melalui keberhasilan tugas, tetapi juga melalui kejujuran, kecepatan respons, serta etika komunikasi yang membangun,” pungkasnya.
Melalui penguatan peran Bhabinkamtibmas dan strategi pengamanan yang terintegrasi, Polres Demak menegaskan komitmennya menghadirkan Ramadan yang kondusif, religius, dan harmonis bagi seluruh lapisan masyarakat.Punkasnya,Munthohar.aji.




