Peristiwa terjadi di beberapa titik di Desa Karanganom, dengan dampak paling signifikan berada di Dukuh Genengsari dan Dukuh Karanganom. Sedikitnya enam rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat bervariasi, mulai dari genteng pecah, teras ambruk, hingga bangunan yang tertimpa pohon jati tumbang akibat terpaan angin kencang.
Di Dukuh Genengsari RT 3, tercatat tujuh rumah mengalami kerusakan pada bagian teras. Empat pohon jati tumbang di lokasi tersebut, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp38,5 juta. Sementara di RT 1, satu rumah mengalami kerusakan sekitar 100 genteng pecah dengan estimasi kerugian Rp500 ribu.
Kerusakan juga terjadi di Dukuh Karanganom RT 06, di mana dua rumah tertimpa pohon tumbang dan sekitar 400 genteng pecah dengan taksiran kerugian Rp4,4 juta. Di RT 07, pohon jati yang tumbang menimpa kabel milik PLN sehingga menyebabkan gangguan jaringan listrik sementara dengan estimasi kerugian Rp1,5 juta. Adapun di RT 08, tiga rumah mengalami kerusakan ringan dengan total kerugian sekitar Rp600 ribu.
Secara keseluruhan, total kerugian materiil akibat peristiwa tersebut diperkirakan mencapai Rp44,5 juta. Beruntung, tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian ini. Namun, warga sempat diliputi kepanikan ketika angin berputar kencang disertai suara gemuruh yang menggetarkan atap dan rangka rumah.
Kapolres Sragen Dewiana Syamsu Indyassari melalui Kapolsek Sukodono menegaskan bahwa kejadian tersebut murni disebabkan faktor cuaca ekstrem dan tidak berkaitan dengan unsur tindak pidana.
“Begitu menerima laporan, personel segera bergerak ke lokasi untuk melakukan penanganan awal dan memastikan keselamatan warga,” ujarnya.
Jajaran Polsek Sukodono bersama tim dari BPBD Kabupaten Sragen langsung berjibaku melakukan evakuasi pohon tumbang yang menutup badan jalan serta menimpa rumah warga. Dengan menggunakan mesin pemotong kayu dan peralatan lapangan yang tersedia, petugas memotong batang pohon jati berdiameter besar yang melintang di jalan raya.
Di tengah sisa hujan dan hembusan angin yang masih terasa, aparat kepolisian, BPBD, dan warga setempat bahu-membahu membersihkan ranting serta puing-puing genteng yang berserakan. Sejumlah anggota kepolisian juga terlihat membantu warga mengevakuasi barang-barang dari rumah yang terdampak guna mencegah kerusakan lanjutan, sementara personel lainnya mengatur arus lalu lintas untuk menghindari kemacetan di ruas strategis Sukodono.
Koordinasi lintas instansi dilakukan secara cepat dan terukur, termasuk dengan pihak PLN guna memastikan perbaikan jaringan listrik yang terdampak dapat segera dilakukan. Sinergi tersebut membuahkan hasil, di mana dalam hitungan jam akses jalan yang sempat lumpuh berhasil dibuka kembali dan aktivitas masyarakat berangsur normal.
Hingga malam hari, situasi di wilayah terdampak dinyatakan aman dan kondusif. Aparat tetap melakukan pemantauan guna mengantisipasi potensi cuaca susulan mengingat kondisi atmosfer yang masih fluktuatif di masa peralihan musim.
Peristiwa ini menjadi refleksi penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Dalam konteks mitigasi bencana, kesiapsiagaan, koordinasi cepat antarinstansi, serta partisipasi aktif
masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko dan dampak kerugian di masa mendatang.Punkasnya,Eko.Wakid.




