Menyikapi tragedi tersebut, Zayinul Fata, Ketua DPRD Kabupaten Demak, menyampaikan duka cita yang mendalam sekaligus menyerukan refleksi kolektif bagi seluruh elemen masyarakat. Ia menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi peringatan keras bagi semua pihak untuk menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap anak, baik secara fisik, verbal, maupun psikologis.
“Ini adalah peringatan keras bagi kita semua. Stop bullying dan segala bentuk perilaku kekerasan, baik fisik maupun verbal, di lingkungan keluarga dan sekolah. Mari kita perkuat komunikasi dengan anak; dengarkan mereka, karena kesehatan mental anak adalah tanggung jawab kolektif kita bersama,” tegas Zayin dalam keterangannya kepada media.
Zayin, sapaan akrab Ketua DPRD Demak, menyatakan keprihatinan mendalam atas tragedi yang menimpa siswi sekolah dasar tersebut. Menurutnya, kasus ini tidak boleh dipandang sebagai peristiwa individual semata, melainkan sebagai cermin persoalan sosial yang lebih luas, khususnya dalam konteks pendidikan keluarga di era digital yang sarat tekanan psikologis, ekspektasi akademik, serta paparan komunikasi instan tanpa sekat emosional.
Dalam perspektif pendidikan religius, Zayin menekankan bahwa nilai-nilai keislaman sejatinya telah memberikan panduan yang sangat jelas mengenai pentingnya komunikasi yang beradab, penuh kasih, dan menenteramkan jiwa, terlebih kepada anak-anak yang masih berada dalam fase pertumbuhan mental dan emosional.
“Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk berkata-kata yang baik. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Thaha ayat 44, qaulan layyinan, yang artinya berkatalah dengan lemah lembut. Bahkan kepada Firaun saja diperintahkan untuk berbicara lembut, apalagi kepada darah daging kita sendiri,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pendidikan sejati tidak hanya terletak pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak, empati, dan rasa aman dalam keluarga. Rumah, menurutnya, harus menjadi ruang paling aman bagi anak untuk mengekspresikan kegelisahan, ketakutan, dan persoalan batin tanpa rasa takut dihakimi atau disalahkan.
Lebih jauh, Zayin mengajak para orang tua, pendidik, tokoh agama, dan pemangku kebijakan untuk memperkuat sinergi dalam membangun ekosistem pendidikan yang berorientasi pada kesehatan mental anak. Sekolah, keluarga, dan masyarakat harus berjalan seiring dalam menanamkan nilai kasih sayang (rahmah), saling menghargai (ta’zim), serta komunikasi dua arah yang sehat.
Menurutnya, di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, anak-anak kerap menghadapi tekanan psikologis yang tidak selalu mampu mereka ungkapkan secara verbal. Oleh karena itu, kepekaan orang tua dan guru dalam membaca perubahan perilaku anak menjadi kunci penting pencegahan tragedi serupa di masa depan.
“Anak-anak bukan hanya amanah konstitusional, tetapi juga amanah ilahiah. Setiap kata yang kita ucapkan kepada mereka bisa menjadi doa atau justru luka batin. Maka, mari kita jaga lisan, sikap, dan hati kita dalam mendidik generasi penerus bangsa,” pungkas Zayin.
Tragedi ini diharapkan menjadi momentum nasional untuk memperkuat pendidikan karakter berbasis nilai religius, kemanusiaan, dan empati sosial, agar tidak ada lagi anak-anak yang merasa sendirian menghadapi beban hidup di usia yang seharusnya dipenuhi dengan kasih sayang, harapan, dan masa depan.
Tutupnya,Mukti ,Aji.



