Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tim Siaga Bhayangkara Polres Tegal Intensifkan Evakuasi Korban Tanah Bergerak di Desa Padasari, Sinergi Polri, BNPB, dan Pemerintah Daerah Menegaskan Negara Hadir dalam Manajemen Krisis Kebencanaan

Rabu, 11 Februari 2026 | Februari 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-11T05:53:35Z

 

MNI|TEGAL — Fenomena bencana alam berupa tanah bergerak yang melanda wilayah Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, kembali menegaskan urgensi respons cepat, terkoordinasi, dan berbasis kolaborasi lintas sektor dalam penanganan krisis kebencanaan. Dalam konteks tersebut, Tim Siaga Bhayangkara Polres Tegal secara intensif melaksanakan operasi kemanusiaan berupa evakuasi dan pendampingan warga terdampak, Rabu (11/2/2026).

Operasi kemanusiaan ini dipimpin langsung oleh IPTU Henry Ade Birawan, S.H., M.H., sebagai representasi kesiapsiagaan Polri dalam menghadapi situasi darurat. Kehadiran Tim Siaga Bhayangkara di lokasi bencana mencerminkan transformasi peran Polri sebagai institusi yang tidak hanya menjalankan fungsi penegakan hukum, tetapi juga berperan strategis dalam manajemen risiko bencana, perlindungan warga, dan stabilisasi sosial.

Sejak tahap awal tanggap darurat, personel kepolisian dikerahkan untuk membantu evakuasi warga dari zona rawan, mengamankan barang-barang milik masyarakat, serta memastikan jalur evakuasi dan titik pengungsian berada dalam kondisi aman dan layak. Aparat juga melakukan pemetaan wilayah terdampak guna mengidentifikasi potensi risiko lanjutan akibat pergerakan tanah susulan, sejalan dengan prinsip manajemen bencana yang diusung oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dalam pelaksanaannya, pendekatan yang digunakan Tim Siaga Bhayangkara bersifat multidimensional. Selain evakuasi fisik, petugas juga melakukan komunikasi risiko (risk communication) kepada warga terkait mitigasi bencana, peningkatan kewaspadaan terhadap tanda-tanda geologis, serta dorongan untuk segera mengungsi ke lokasi yang lebih aman apabila situasi dinilai mengancam keselamatan jiwa. Pendekatan ini sejalan dengan paradigma BNPB yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam sistem pengurangan risiko bencana.

Kehadiran Polri di tengah masyarakat terdampak bencana tidak hanya memperkuat rasa aman, tetapi juga mempercepat proses penanganan darurat. Dalam perspektif sosiologis, kehadiran aparat negara di tengah krisis menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas psikologis masyarakat, memperkuat solidaritas sosial, serta mencegah potensi gangguan keamanan yang dapat memperburuk situasi kemanusiaan.

Kapolres Tegal AKBP Bayu Prasatyo, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa seluruh jajaran Polres Tegal telah disiagakan untuk memberikan perlindungan dan pertolongan maksimal kepada masyarakat. Ia menekankan bahwa keselamatan warga merupakan prioritas utama dalam setiap kebijakan dan langkah operasional kepolisian.


“Polri hadir untuk memberikan perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat. Kami akan terus melakukan upaya evakuasi, pengamanan, serta pemantauan situasi guna memastikan keselamatan warga menjadi prioritas utama,” tegas AKBP Bayu Prasatyo.

Lebih lanjut, Kapolres menjelaskan bahwa penanganan bencana dilakukan secara terpadu melalui koordinasi lintas sektor dengan pemerintah daerah, BPBD, BNPB, TNI, relawan, serta unsur masyarakat. Sinergi antarlembaga tersebut menjadi fondasi utama dalam memastikan respons darurat berjalan efektif, terukur, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan daerah terhadap risiko bencana di masa depan.

Secara geologis, fenomena tanah bergerak di wilayah perbukitan Kabupaten Tegal dipengaruhi oleh sejumlah faktor struktural, antara lain kondisi tanah yang labil, intensitas curah hujan tinggi, serta karakter topografi yang rentan terhadap pergerakan massa tanah. Dalam kerangka kebijakan kebencanaan nasional, kondisi ini menuntut penguatan strategi mitigasi berbasis wilayah, peningkatan sistem peringatan dini, serta integrasi perencanaan tata ruang dengan aspek risiko bencana.

Di sisi lain, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di lokasi terdampak bencana terus dipantau secara intensif. Aparat kepolisian memastikan tidak terjadi gangguan keamanan, penjarahan, maupun potensi konflik sosial yang dapat memperburuk kondisi warga di tengah situasi darurat. Upaya ini sejalan dengan mandat Polri sebagai penjaga stabilitas sosial dalam kondisi krisis.

Respons cepat Polres Tegal melalui Tim Siaga Bhayangkara mencerminkan paradigma baru Polri sebagai institusi modern yang adaptif terhadap tantangan kebencanaan. Dalam konteks ini, Polri tidak hanya menjalankan fungsi represif, tetapi juga fungsi preventif dan humanis sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

Hingga saat ini, situasi di lokasi bencana masih terus dipantau secara berkelanjutan. Polres Tegal bersama instansi terkait melakukan evaluasi berkala terhadap perkembangan kondisi lapangan guna memastikan langkah-langkah penanganan berjalan optimal. Operasi kemanusiaan akan terus dilaksanakan hingga kondisi dinyatakan aman dan stabil.

Bencana tanah bergerak di Desa Padasari sekaligus menjadi refleksi pentingnya kesiapsiagaan kolektif dalam menghadapi risiko bencana alam. Dalam perspektif kebijakan publik, peristiwa ini menegaskan bahwa kolaborasi antara negara, aparat keamanan, dan masyarakat merupakan prasyarat utama dalam membangun ketahanan sosial, ekologis, dan institusional yang berkelanjutan.


Melalui langkah-langkah responsif, terkoordinasi, dan humanis, Polres Tegal menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, khususnya dalam situasi krisis. Kehadiran Polri bukan sekadar simbol negara, melainkan representasi nyata dari tanggung jawab konstitusional dalam melindungi keselamatan rakyat dan menjaga stabilitas sosial di tengah ancaman bencana alam.

Punkasnya,Wahid.tim.

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update