Rakornas mengusung tema “Sinergi Pusat dan Daerah dalam Implementasi Program Prioritas Presiden Menuju Indonesia Emas Tahun 2045”. Tema tersebut mencerminkan orientasi kebijakan pemerintah yang menempatkan harmonisasi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembangunan sebagai prasyarat utama bagi transformasi nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Sinergi Pusat–Daerah sebagai Paradigma Baru Pembangunan Nasional
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah bukan sekadar koordinasi administratif, melainkan paradigma baru dalam tata kelola pembangunan nasional.
“Indonesia tidak bisa maju jika pusat dan daerah berjalan sendiri-sendiri. Kita membutuhkan kesatuan visi, konsistensi kebijakan, dan keberanian dalam eksekusi program prioritas,” tegas Presiden.
Presiden juga menekankan bahwa stabilitas nasional, ketahanan ekonomi, serta ketahanan sosial dan lingkungan harus menjadi fondasi utama dalam menghadapi dinamika geopolitik, disrupsi teknologi, dan tantangan global yang semakin kompleks.
Secara konseptual, Rakornas ini menandai pergeseran pendekatan pembangunan dari pola sektoral menuju pendekatan orkestratif, di mana kebijakan pusat dan daerah dirancang dalam satu arsitektur strategis yang saling terintegrasi.
Agenda Program Prioritas: Pilar Transformasi Nasional
Rakornas secara substantif membahas sejumlah program prioritas Presiden yang menjadi pilar transformasi pembangunan nasional.
1. Ketahanan dan Swasembada Pangan
Pemerintah menempatkan ketahanan pangan sebagai agenda strategis nasional. Kebijakan diarahkan pada modernisasi pertanian, penguatan produksi domestik, reforma agraria, serta penguatan rantai pasok pangan untuk menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas harga.
2. Ketahanan dan Transisi Energi
Pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), diversifikasi sumber energi, serta percepatan hilirisasi sumber daya alam menjadi instrumen kebijakan untuk memperkuat kedaulatan energi nasional sekaligus mendukung agenda transisi energi global.
3. Hilirisasi Industri dan Penguatan Ekonomi Nasional
Hilirisasi sumber daya alam diposisikan sebagai strategi utama peningkatan nilai tambah ekonomi nasional. Kebijakan ini disinergikan dengan penguatan UMKM, industrialisasi berbasis sumber daya domestik, dan pengembangan ekonomi digital.
4. Pembangunan Infrastruktur Strategis
Pemerintah menekankan percepatan pembangunan infrastruktur konektivitas, logistik, transportasi, dan infrastruktur dasar sebagai instrumen pemerataan pembangunan antarwilayah dan penguatan daya saing ekonomi nasional.
5. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
Transformasi pendidikan, penguatan pendidikan vokasi, peningkatan layanan kesehatan, serta penguatan sistem perlindungan sosial menjadi agenda utama dalam membangun SDM unggul sebagai modal dasar menuju Indonesia Emas 2045.
6. Penanganan Persoalan Lingkungan dan Sampah Nasional
Penguatan kebijakan pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, dan mitigasi perubahan iklim menjadi bagian integral dari strategi pembangunan berkelanjutan.
7. Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan
Digitalisasi layanan publik, peningkatan akuntabilitas, dan penguatan kapasitas aparatur sipil negara diarahkan untuk menciptakan birokrasi yang adaptif, responsif, dan berorientasi pada hasil.
8. Penguatan Stabilitas Keamanan dan Ketahanan Nasional
Sinergi TNI–Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dipandang sebagai faktor kunci dalam menjaga stabilitas nasional yang kondusif bagi pembangunan.
Konsolidasi Nasional Lintas Sektor dan Wilayah
Rakornas dihadiri ribuan pejabat dari berbagai tingkatan pemerintahan. Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hadir bersama jajaran menteri Kabinet Merah Putih, termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Turut hadir pimpinan kementerian dan lembaga negara, termasuk Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta pejabat tinggi negara lainnya.
Dari daerah, sekitar 4.487 peserta mengikuti Rakornas, terdiri atas gubernur, bupati, dan wali kota seluruh Indonesia, pimpinan DPRD
provinsi dan kabupaten/kota, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).Secara politis dan administratif, komposisi peserta mencerminkan upaya pemerintah membangun kesepahaman lintas level pemerintahan dalam satu kerangka kebijakan nasional.
Rakornas sebagai Instrumen Orkestrasi Kebijakan Nasional
Rakornas dipandang sebagai instrumen strategis untuk mengonsolidasikan kebijakan nasional agar implementasi program prioritas Presiden dapat berjalan secara sinkron di seluruh wilayah Indonesia.
Forum ini menegaskan bahwa keberhasilan RPJMN 2025–2029 tidak hanya ditentukan oleh perumusan kebijakan di tingkat pusat, tetapi juga oleh efektivitas implementasi di tingkat daerah.
“Keberhasilan pembangunan nasional adalah hasil kerja kolektif. Pemerintah pusat dan daerah harus bergerak dalam satu irama, satu arah, dan satu tujuan,” tegas Presiden.
Dari perspektif kebijakan publik, Rakornas ini merepresentasikan model whole-of-government approach, di mana seluruh aktor pemerintahan diintegrasikan dalam satu desain kebijakan nasional yang koheren.
Menuju Indonesia Emas 2045: Dari Koordinasi ke Transformasi
Rakornas Pusat dan Daerah 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. Sinergi kebijakan, kepemimpinan nasional yang kuat, serta partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan dipandang sebagai faktor determinan dalam mewujudkan transformasi pembangunan nasional.
Forum ini sekaligus menegaskan bahwa pembangunan Indonesia ke depan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, penguatan kedaulatan nasional, dan daya tahan bangsa menghadapi perubahan global.
Dengan demikian, Rakornas bukan sekadar forum koordinasi, melainkan panggung strategis untuk menyatukan visi, memperkuat legitimasi kebijakan, dan memastikan bahwa agenda pembangunan nasional berjalan dalam satu garis sejarah menuju Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan makmur pada 2045.
Punkasnya,Yasin.Mukti.




