Operasi Keselamatan Candi 2026 dilaksanakan selama 14 hari, terhitung sejak 2 hingga 15 Februari 2026. Operasi ini diarahkan untuk menekan angka pelanggaran lalu lintas dan kecelakaan, khususnya menjelang bulan suci Ramadan, periode yang secara sosiologis ditandai dengan peningkatan mobilitas masyarakat dan intensitas aktivitas ekonomi.
Lalu Lintas sebagai Representasi Disiplin Sosial
AKP Rusmanto menegaskan bahwa meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang Ramadan berdampak pada kepadatan arus lalu lintas, sekaligus meningkatkan potensi pelanggaran dan kecelakaan. Dalam konteks tersebut, wilayah Wonosalam memiliki posisi strategis sebagai jalur penghubung Kabupaten Demak dengan Kabupaten Grobogan dan wilayah sekitarnya, sekaligus sebagai bagian dari jalur provinsi yang menjadi urat nadi mobilitas sosial dan ekonomi.“Wilayah Wonosalam bukan sekadar jalur transportasi, tetapi ruang publik yang mencerminkan disiplin sosial. Tertib berlalu lintas bukan hanya persoalan teknis, melainkan refleksi budaya masyarakat,” ujar AKP Rusmanto.
Menurutnya, terciptanya lalu lintas yang tertib merupakan prasyarat fundamental bagi terwujudnya ruang publik yang aman, nyaman, dan beradab.
Edukasi Humanis sebagai Pilar Strategi Kepolisian
Kapolsek Wonosalam menjelaskan bahwa Operasi Keselamatan Candi 2026 tidak semata-mata berorientasi pada penindakan hukum, tetapi lebih pada pembangunan kesadaran kolektif masyarakat melalui pendekatan edukatif dan humanis.
“Kami tidak hadir untuk mencari kesalahan, tetapi membangun kesadaran dan budaya tertib berlalu lintas demi keselamatan bersama. Polisi hadir sebagai mitra masyarakat,” tegasnya.
Sasaran operasi difokuskan pada pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal, seperti tidak menggunakan helm, melanggar rambu lalu lintas, berkendara melebihi batas kecepatan, penggunaan telepon genggam saat berkendara, serta pelanggaran teknis kendaraan.
Pendekatan Profesional, Proporsional, dan Berorientasi Pelayanan
Pelaksanaan operasi dilakukan secara profesional, proporsional, dan humanis. Personel kepolisian ditempatkan pada titik-titik rawan kecelakaan dan kemacetan, disertai peningkatan patroli serta pengawasan lalu lintas yang terukur.
Selain penegakan hukum, Polsek Wonosalam juga aktif melakukan edukasi langsung kepada pengendara melalui dialog, imbauan keselamatan, dan sosialisasi tertib berlalu lintas.
“Kehadiran polisi bukan sekadar simbol otoritas, tetapi manifestasi pelayanan publik. Kami hadir dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat,” ungkap AKP Rusmanto.
Kenyamanan dan Keselamatan sebagai Orientasi Kebijakan
Operasi Keselamatan Candi 2026 dipandang sebagai instrumen strategis dalam menciptakan ruang lalu lintas yang aman, tertib, dan nyaman bagi masyarakat. Dengan menurunnya angka pelanggaran dan kecelakaan, diharapkan kualitas hidup masyarakat meningkat, sekaligus mendukung stabilitas sosial dan dinamika ekonomi di wilayah Demak dan sekitarnya.
Dari perspektif kebijakan publik, operasi ini mencerminkan transformasi paradigma kepolisian, dari pendekatan represif menuju pendekatan preventif dan edukatif, yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam pembangunan keselamatan lalu lintas.
Sinergi Polisi dan Masyarakat untuk Budaya Tertib Berkelanjutan
Polsek Wonosalam menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan masyarakat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mewujudkan budaya tertib berlalu lintas yang berkelanjutan.
Melalui Operasi Keselamatan Candi 2026, kepolisian berharap tercipta perubahan perilaku berlalu lintas yang lebih disiplin, bertanggung jawab, dan berorientasi pada keselamatan.
Dengan demikian, operasi ini tidak hanya menjadi agenda rutin kepolisian, tetapi juga menjadi bagian dari strategi nasional dalam membangun peradaban lalu lintas yang aman, humanis, dan berkeadilan, demi terwujudnya kenyamanan dan keselamatan masyarakat secara luas.
Punkasnya,Furi.Mukti.



.jpg)

