Hadir sebagai penceramah utama, muballigh nasional Dr. H. Iskandar Chang menyampaikan tausiyah dengan pendekatan moderat, reflektif, dan kontekstual. Dalam ceramahnya, ia menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan merupakan fondasi utama dalam membangun akhlak sosial serta peradaban masyarakat yang berkeadaban, harmonis, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Menurutnya, dakwah tidak semata-mata dimaknai sebagai aktivitas ritual, tetapi juga sebagai upaya membangun kesadaran moral, memperkuat solidaritas sosial, dan menumbuhkan etos kebangsaan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual.
Pengajian tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh lintas organisasi keagamaan dan sosial, di antaranya perwakilan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, tokoh masyarakat, akademisi, serta sejumlah pejabat publik. Kehadiran beragam elemen ini mencerminkan kuatnya komitmen kolektif dalam merawat ukhuwah Islamiyah sekaligus memperkokoh persaudaraan kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Turut hadir Direktur Utama PDAM Tirta Moedal Kota Semarang yang baru, Ady Setiawan, yang kehadirannya dipandang sebagai bentuk dukungan nyata terhadap penguatan dakwah berbasis komunitas serta pembangunan spiritual masyarakat. Partisipasi pejabat publik dalam kegiatan keagamaan ini sekaligus menunjukkan sinergi antara dimensi spiritual dan tanggung jawab sosial dalam pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Pengajian ini diasuh dan dikoordinatori oleh Dr. AM Jumai, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan keagamaan berbasis komunitas memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran religius sekaligus mempererat kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
“Pengajian bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga ruang dialog, ruang persaudaraan, dan ruang pembentukan karakter masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dakwah yang adaptif, inklusif, dan mencerahkan menjadi kebutuhan mendasar dalam merespons tantangan zaman. Menurutnya, penguatan dakwah berbasis komunitas merupakan salah satu instrumen efektif dalam membangun masyarakat yang religius, toleran, berdaya, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.
Selain tausiyah, kegiatan pengajian juga diisi dengan doa bersama dan refleksi keagamaan yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Atmosfer religius yang tercipta memperlihatkan bahwa agama tidak hanya menjadi sumber spiritualitas individual, tetapi juga energi sosial yang menggerakkan solidaritas, kepedulian, dan partisipasi masyarakat dalam kehidupan sosial.
Pengajian komunitas ini diharapkan dapat menjadi model ruang dakwah yang inklusif, dialogis, dan berkelanjutan di Kota Semarang. Melalui sinergi antara tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan unsur pemerintah, kegiatan keagamaan semacam ini diyakini mampu memperkuat fondasi moral dan spiritual masyarakat sekaligus mendukung terciptanya kehidupan sosial yang harmonis, adil, dan berkeadaban.
Dengan semangat kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan ini, masyarakat Kota Semarang menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya berbicara tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang membangun peradaban, memperkuat persatuan, serta meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan dalam bingkai keimanan dan ketakwaan sebagai pondasi utama kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Punkasnya,Adi.tim



