Luapan sungai terjadi sekitar pukul 18.30 WIB di Jembatan Desa Krajan RT 02 RW 02. Curah hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung dalam durasi relatif panjang menyebabkan peningkatan debit air sungai secara cepat. Kondisi diperparah oleh pohon tumbang serta akumulasi sampah yang menyumbat badan jembatan, sehingga aliran air meluber ke badan jalan dan menciptakan arus kuat yang sulit dilalui kendaraan.
Di tengah situasi tersebut, dua remaja yang berboncengan menggunakan sepeda motor Honda Scoopy tahun 2025 diduga tetap mencoba melintasi jembatan yang telah tergenang. Upaya tersebut berujung pada kecelakaan ketika kendaraan kehilangan kendali dan terseret arus sungai yang meluap.
Kronologi Kejadian dan Upaya Penyelamatan
Salah satu korban, Alfa Ayuda Inara (14), warga Mlaten, Pagerwojo, Limbangan, Kabupaten Kendal, berhasil menyelamatkan diri dari derasnya arus. Dalam kondisi lemas, korban meminta pertolongan di Masjid Pondok Pesantren Raudlatul Syifa, Karangmalang, dan melaporkan bahwa rekannya, Nadia Eka Kurniawati, hanyut terbawa arus.Setelah melaporkan kejadian, korban selamat sempat mengalami pingsan akibat kelelahan dan syok. Warga setempat kemudian mengevakuasi korban ke Puskesmas Karangmalang untuk mendapatkan perawatan medis.
Sementara itu, korban kedua, Nadia Eka Kurniawati, yang berdomisili di Cangkiran, Kota Semarang, hingga berita ini diturunkan masih belum ditemukan. Sepeda motor yang dikendarai korban juga dilaporkan hanyut terbawa arus sungai.
Respons Cepat dan Koordinasi Tim Gabungan
Laporan kejadian diterima Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Mijen. Sekitar pukul 19.00 WIB, personel piket fungsi Polsek Mijen segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan pengamanan area sekaligus upaya pencarian awal.
Pada pukul 20.30 WIB, tim Basarnas dan BPBD Kota Semarang tiba di lokasi dan bergabung dengan unsur TNI-Polri, Koramil, PMI, relawan kebencanaan, serta masyarakat setempat untuk melakukan operasi pencarian dan penyisiran di sepanjang aliran sungai.
Penyisiran dilakukan di sejumlah titik rawan, termasuk di sekitar Jembatan Polaman dan Jembatan Cempoko. Namun, keterbatasan jarak pandang akibat kondisi gelap serta derasnya arus sungai membuat operasi pencarian sementara dihentikan pada pukul 21.40 WIB demi pertimbangan keselamatan personel. Operasi pencarian dilanjutkan pada Rabu (11/2/2026) pukul 06.30 WIB dengan posko pencarian yang dipusatkan di Masjid Ponpes Raudlatul Syifa.
Framing BMKG: Dinamika Cuaca Ekstrem dan Risiko Hidrometeorologi
Dalam perspektif BMKG, peristiwa ini sejalan dengan peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan untuk wilayah Jawa Tengah. BMKG mencatat potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang disertai angin kencang dan kilat/petir pada periode tersebut.
Secara ilmiah, peningkatan curah hujan dalam waktu singkat dapat menyebabkan kenaikan debit sungai secara tiba-tiba, terutama pada daerah dengan karakteristik topografi cekung, sistem drainase terbatas, dan tingkat sedimentasi tinggi. Kombinasi faktor alam dan antropogenik—seperti penyumbatan aliran oleh sampah—memperbesar risiko terjadinya banjir bandang dan luapan sungai.
Fenomena ini menegaskan urgensi kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat akibat variabilitas iklim.
Perspektif BNPB–BPBD: Manajemen Risiko dan Kesiapsiagaan Publik
Dalam kerangka manajemen risiko kebencanaan yang dikembangkan BNPB dan BPBD, peristiwa di Karangmalang mencerminkan interaksi antara bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity). Luapan sungai sebagai hazard bertemu dengan kerentanan infrastruktur jembatan dan perilaku masyarakat yang tetap melintas di tengah kondisi berbahaya.
BPBD Kota Semarang menegaskan bahwa upaya penanganan bencana tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga preventif melalui penguatan sistem peringatan dini, pemeliharaan infrastruktur drainase, serta edukasi publik mengenai keselamatan di zona rawan bencana.
Imbauan Aparat dan Edukasi Kebencanaan
Kapolsek Mijen Kompol Sutowo, S.H., menegaskan bahwa pihaknya bersama unsur terkait terus berupaya maksimal dalam proses pencarian korban. Ia juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak memaksakan diri melintas di jalur yang tergenang air atau jembatan yang dilanda luapan sungai.
“Kami mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri melintas di jalan atau jembatan yang tergenang air maupun saat arus sungai meluap. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama. Jika terjadi kondisi darurat, segera laporkan kepada aparat setempat agar dapat segera ditangani,” tegas Kompol Sutowo.
Ia juga menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, khususnya dengan tidak membuang sampah ke sungai. Menurutnya, perilaku tersebut dapat memperparah risiko banjir akibat tersumbatnya aliran air.
Sinergi Lintas Sektor sebagai Pilar Ketangguhan Daerah
Operasi pencarian korban hanyut melibatkan sinergi lintas sektor antara TNI-Polri, Basarnas, BPBD, PMI, relawan kebencanaan, dan masyarakat setempat. Kolaborasi ini mencerminkan model respons bencana yang terkoordinasi dan partisipatif, sejalan dengan prinsip penanggulangan bencana nasional.
Sejumlah warga menyampaikan harapan agar seluruh personel yang terlibat dalam operasi pencarian senantiasa diberikan keselamatan dan kesehatan dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Sinergi antara aparat negara dan masyarakat dinilai sebagai modal sosial yang krusial dalam memperkuat ketahanan daerah terhadap bencana.
Refleksi Strategis: Dari Respons ke Mitigasi
Peristiwa Karangmalang menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak dapat berhenti pada tahap respons darurat. Diperlukan transformasi paradigma menuju mitigasi struktural dan nonstruktural, termasuk penguatan tata kelola sungai, edukasi risiko bencana, serta integrasi data BMKG dalam perencanaan pembangunan daerah.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih melanjutkan operasi pencarian korban yang hanyut di Sungai Karangmalang. Upaya tersebut merepresentasikan komitmen negara dalam melindungi keselamatan warga sekaligus memastikan bahwa setiap peristiwa bencana ditangani secara profesional, terkoordinasi, dan humanis.Punkasnya,Eko.aji.





