Kegiatan yang diinisiasi oleh Polsek Manyaran jajaran Polres Wonogiri ini dihadiri sekitar 150 jamaah. Hadir dalam kesempatan tersebut unsur Forkopimcam Manyaran, para kepala desa dan lurah se-Kecamatan Manyaran, tokoh agama, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam seperti NU, LDII, MTA, dan Muhammadiyah.
Turut hadir Camat Manyaran Toto Tri Mulyarto, Kapolsek Manyaran AKP Parji, S.H., Danramil 11 Manyaran yang diwakili Serma Agus, Kepala KUA Manyaran, serta Ketua IPHI Kecamatan Manyaran. Kehadiran lintas elemen tersebut mencerminkan soliditas dan komitmen bersama dalam menjaga stabilitas sosial berbasis nilai-nilai religius.
Ramadan sebagai Momentum Tafaqqur dan Penguatan Moral
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai peneguhan komitmen kebangsaan, dilanjutkan gema wahyu ilahi serta sambutan Camat Manyaran. Dalam sambutannya, Camat menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum peningkatan iman, takwa, serta penguatan kebersamaan sosial.
Ia menyampaikan bahwa syiar Islam dan tafaqquh fid-din perlu terus dihidupkan dalam ruang-ruang publik, termasuk melalui kegiatan yang mempersatukan unsur pemerintahan, aparat keamanan, dan masyarakat.
Tausiyah inti disampaikan oleh Nur Wakhid, yang mengajak jamaah menjadikan ibadah puasa sebagai sarana muhasabah diri. Ia menekankan pentingnya menjaga lisan, pandangan, serta kebersihan hati agar esensi puasa tidak berhenti pada dimensi fisik, tetapi membentuk karakter insan yang berakhlakul karimah.
“Puasa adalah pendidikan ruhani. Ia mendidik kesabaran, kejujuran, serta empati sosial yang pada akhirnya membentuk pribadi dan masyarakat yang lebih bermartabat,” ungkapnya dalam tausiyah.
Pendekatan Humanis Polri dalam Bingkai Religius
Selama kegiatan berlangsung, pengamanan dan pengawasan dilakukan secara langsung oleh Kapolsek Manyaran AKP Parji, S.H., sehingga seluruh rangkaian acara berjalan aman, tertib, dan kondusif. Kehadiran aparat kepolisian tidak hanya dalam fungsi pengamanan, tetapi juga sebagai bagian dari jamaah yang turut memperkuat kebersamaan spiritual.
Kasihumas Polres Wonogiri, Anom Prabowo, S.H., M.H., mewakili Kapolres Wonogiri Wahyu Sulistyo, S.H., S.I.K., M.P.M., menyampaikan bahwa kegiatan keagamaan ini merupakan bagian dari strategi komunikasi publik Polri dalam membangun kedekatan yang autentik dengan masyarakat.
Menurutnya, pendekatan religius dan humanis menjadi instrumen efektif dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya selama bulan suci Ramadan yang sarat aktivitas sosial dan keagamaan.
“Pengajian Jumat Berkah Ramadan ini adalah wujud sinergi Polri, pemerintah, dan tokoh agama dalam menjaga kerukunan serta menciptakan suasana kamtibmas yang sejuk dan kondusif,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan serupa dilaksanakan secara berkelanjutan oleh jajaran Polsek lainnya di bawah koordinasi Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai implementasi Polri Presisi yang tidak hanya responsif dalam penegakan hukum, tetapi juga hadir dalam pembinaan moral dan sosial masyarakat.
Membangun Ketahanan Sosial Berbasis Spiritualitas
Dalam perspektif kehumasan institusional yang religius dan agamis, kegiatan ini menjadi simbol bahwa keamanan bukan semata persoalan struktural, tetapi juga lahir dari ketahanan moral masyarakat. Kolaborasi antara aparat, ulama, dan pemerintah kecamatan memperkuat fondasi harmoni sosial yang berakar pada nilai-nilai keimanan.
Ramadan di Manyaran tidak hanya menghadirkan ibadah individual, tetapi juga meneguhkan solidaritas kolektif. Melalui pengajian Jumat Berkah ini, Polri dan seluruh elemen masyarakat menunjukkan bahwa stabilitas keamanan dan kedamaian
sosial dapat dibangun melalui pendekatan spiritual yang inklusif, menyejukkan, dan penuh hikmah.Punkasnya,Eko.Wakid.





