Kegiatan ini dihadiri unsur Forkopimda, jajaran Kodim 0725/Sragen, Kejaksaan, Pengadilan, kepala organisasi perangkat daerah, serta perwakilan 17 perguruan pencak silat dan organisasi kemasyarakatan di Kabupaten Sragen. Kehadiran lintas sektoral tersebut menjadi penegasan bahwa stabilitas keamanan Ramadan merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa.
Dalam amanatnya, Kapolres menegaskan bahwa bulan Ramadan membawa perubahan signifikan terhadap ritme sosial masyarakat—mulai dari aktivitas sahur, ngabuburit, hingga peningkatan mobilitas malam hari. Dinamika tersebut berpotensi menimbulkan kerawanan apabila tidak diantisipasi secara sistematis dan terukur.
“Ramadan adalah bulan penuh berkah dan momentum peningkatan spiritualitas umat. Tugas kita memastikan masyarakat dapat beribadah dengan aman, nyaman, dan khusyuk tanpa gangguan,” tegasnya.
Kapolres mengidentifikasi sejumlah potensi gangguan kamtibmas, di antaranya balap liar, aktivitas gang motor, pencurian kendaraan bermotor (curanmor), kemacetan saat ngabuburit, serta fenomena sahur on the road yang berisiko mengganggu ketertiban umum. Untuk itu, penguatan patroli terpadu akan difokuskan pada jam-jam rawan, termasuk saat pelaksanaan salat tarawih dan menjelang waktu sahur.
Selain pengamanan terbuka, jajaran kepolisian juga memperkuat fungsi deteksi dini melalui optimalisasi peran intelijen serta Bhabinkamtibmas. Pendekatan persuasif kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemuda terus digalakkan guna mencegah potensi intoleransi maupun gesekan sosial yang dapat mencederai harmoni kehidupan bermasyarakat.
Menyikapi adanya insiden anarkisme di sejumlah daerah lain, Kapolres menegaskan bahwa pihaknya telah meningkatkan kesiapsiagaan dan penggalangan terhadap seluruh elemen masyarakat. Ia menekankan bahwa keamanan bukanlah domain eksklusif aparat, melainkan amanah bersama.
“Keamanan adalah tanggung jawab kolektif. Sinergi TNI-Polri, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan menjadi fondasi utama menjaga Sragen tetap kondusif,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolres juga menyoroti peredaran petasan berdaya ledak tinggi yang berpotensi membahayakan keselamatan publik. Satgas khusus telah dibentuk untuk mencegah distribusi bahan peledak ilegal, dan sejumlah barang bukti telah diamankan sebelum beredar luas. Pemusnahan dilakukan secara terpadu bersama unsur terkait.
Ia mengimbau para pedagang agar tidak memperjualbelikan petasan berintensitas tinggi yang dapat mengancam keselamatan jiwa dan mengganggu kekhusyukan ibadah.
Apel siaga ini melibatkan personel gabungan dari Polres Sragen, Kodim 0725/Sragen, Dinas Perhubungan, Satpol PP, BPBD, Damkar, PSC 119, Linmas, hingga unsur pengamanan internal organisasi kemasyarakatan dan perguruan silat. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, dan penuh semangat kebersamaan.
Melalui kolaborasi yang solid dan pendekatan yang humanis-religius, Polres Sragen optimistis Ramadan 1447 H di Kabupaten Sragen akan berlangsung dalam suasana damai, tertib, dan penuh keberkahan. Kehadiran aparat bukan sekadar simbol kekuasaan negara, melainkan manifestasi pengabdian dalam menjaga ketenteraman umat menjalankan ibadah suci.
Punkasnya,Emo.Mukti.



