Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bocah 10 Tahun Tewas Tenggelam di Embung Nglaroh Blora, Aparat dan Masyarakat Bersinergi Lakukan Penanganan dan Edukasi Keselamatan

Jumat, 06 Februari 2026 | Februari 06, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-06T21:26:46Z

MNI|BLORA — Peristiwa tragis kembali mengguncang Kabupaten Blora. Seorang bocah laki-laki berinisial AHS (10), warga Kecamatan Jepon, dilaporkan meninggal dunia setelah tenggelam di Embung Dukuh Nglaroh, Desa Balong, Kecamatan Jepon, pada Jumat (6/2/2026) sore. Kejadian ini menjadi pengingat serius akan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bahaya di ruang publik, khususnya kawasan perairan yang tidak dirancang sebagai area bermain.

Peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, korban bersama tiga temannya mandi di pinggir embung. Aktivitas yang semula berlangsung santai berubah menjadi situasi darurat ketika anak-anak tersebut bercanda dan saling dorong hingga terseret ke area embung yang lebih dalam.

Seorang saksi mata bernama Wahyu, yang saat itu sedang memancing di sekitar lokasi, melihat keempat anak tersebut mulai panik dan kesulitan berenang. Tanpa ragu, ia segera terjun ke dalam embung untuk memberikan pertolongan.

Dalam upaya penyelamatan, Wahyu berhasil menarik satu anak ke tepian. Ia kemudian mengambil tongkat kayu sepanjang kurang lebih lima meter untuk menjangkau anak-anak lainnya. Dua anak berhasil menyelamatkan diri dengan meraih tongkat tersebut, namun korban AHS tidak mampu menjangkaunya karena jarak yang terlalu jauh dan kondisi yang semakin melemah. Korban akhirnya tenggelam sebelum berhasil diselamatkan.

Respons Cepat Aparat dan Tim Penanggulangan Bencana


Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto, S.H., S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Jepon Iptu Moh. Junaidi, S.H., M.H., membenarkan peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa pihak kepolisian segera bergerak setelah menerima laporan dari masyarakat.

“Setelah menerima informasi, personel Polsek Jepon langsung berkoordinasi dengan Tim BPBD Kabupaten Blora untuk melakukan pencarian di lokasi kejadian,” ujar Iptu Moh. Junaidi.

Upaya pencarian dilakukan secara terkoordinasi dengan melibatkan unsur kepolisian, BPBD, serta masyarakat sekitar. Korban akhirnya berhasil ditemukan dan segera dievakuasi ke RS PKU Muhammadiyah Blora untuk mendapatkan penanganan medis.

Namun, setibanya di rumah sakit, tim medis menyatakan bahwa korban telah meninggal dunia. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Petugas hanya menemukan lendir yang keluar dari hidung korban, yang mengindikasikan gagal napas akibat tenggelam.

“Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara dan pemeriksaan medis, peristiwa ini murni kecelakaan akibat tenggelam. Jenazah korban telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan,” tambah Kapolsek Jepon.

Barang Bukti dan Proses Penanganan

Dari lokasi kejadian, aparat kepolisian mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya satu buah tongkat kayu sepanjang lima meter yang digunakan saksi untuk menolong korban serta pakaian milik korban. Proses penanganan dilakukan secara profesional dengan tetap mengedepankan pendekatan humanis kepada keluarga korban.

Kehadiran aparat kepolisian di lokasi tidak hanya dalam konteks penegakan hukum, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab sosial dalam memastikan proses penanganan berjalan tertib, cepat, dan bermartabat.

Imbauan Keselamatan dan Edukasi Publik

Dalam kesempatan tersebut, Kapolsek Jepon juga menyampaikan imbauan tegas kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap aktivitas anak-anak di area perairan, khususnya embung yang memiliki kedalaman dan risiko tinggi.

“Kami mengimbau para orang tua untuk lebih mengawasi aktivitas anak-anak dan melarang mereka bermain di area embung. Lokasi tersebut sangat berbahaya bagi anak-anak yang tidak memiliki kemampuan berenang,” tegasnya.

Selain itu, pihak kepolisian akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan instansi terkait untuk memasang papan peringatan di sekitar embung guna mencegah terulangnya peristiwa serupa.

“Kami mendorong agar di lokasi embung dipasang papan peringatan atau tulisan ‘Hati-hati’ sebagai langkah preventif. Keselamatan masyarakat, terutama anak-anak, harus menjadi prioritas bersama,” pungkas Iptu Moh. Junaidi.

Solidaritas Sosial dan Apresiasi Masyarakat

Peristiwa ini juga memunculkan solidaritas sosial dari masyarakat sekitar. Sejumlah warga menyampaikan duka mendalam atas musibah yang menimpa korban dan keluarganya, sekaligus memberikan apresiasi terhadap respons cepat aparat kepolisian dan tim penanggulangan bencana.

Salah seorang warga menyampaikan harapan agar dedikasi aparat kepolisian terus mendapat keberkahan.

“Semoga kerja keras dan pengabdian jajaran kepolisian, termasuk Bhabinkamtibmas Polres Blora, senantiasa dilimpahi rahmat dan keberkahan dalam menjaga keselamatan masyarakat,” ujarnya.

Refleksi Sosial dan Tanggung Jawab Kolektif

Tragedi tenggelamnya bocah di Embung Nglaroh menjadi refleksi penting bagi seluruh elemen masyarakat tentang perlunya kesadaran kolektif terhadap keselamatan lingkungan. Embung yang sejatinya berfungsi sebagai infrastruktur pengelolaan air memiliki potensi risiko jika tidak disertai pengamanan yang memadai.

Peristiwa ini menegaskan bahwa pencegahan tidak dapat dibebankan hanya kepada aparat atau pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga, masyarakat, dan pemerintah desa dalam membangun budaya keselamatan sejak dini.

Dengan pendekatan kolaboratif antara aparat, pemerintah daerah, dan


masyarakat, diharapkan kejadian serupa tidak kembali terulang. Keselamatan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa harus menjadi tanggung jawab bersama yang terus diperkuat melalui edukasi, pengawasan, dan kebijakan preventif yang berkelanjutan.

Punkasnya,,hari.lestari

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update