MNI|GROBOGAN — Prosesi kirab Air Suci Sendang Sinawah yang berlangsung khidmat di Desa Karangsari, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan, Selasa (10/2/2026), menghadirkan peristiwa budaya yang tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan mengandung dimensi historis, spiritual, dan sosial yang mendalam. Di tengah arus modernisasi, ritual adat ini menjadi penanda kontinuitas peradaban Jawa sekaligus ruang perjumpaan antara tradisi lokal dan peran negara dalam menjaga stabilitas sosial-budaya.
Pengawalan prosesi kirab dilakukan oleh Babinsa Koramil 13/Brati, Sertu Hanafi, sebagai representasi kehadiran TNI di tengah masyarakat. Kehadiran aparat teritorial dalam ritual adat ini mencerminkan paradigma kehumasan TNI–Polri yang menempatkan budaya sebagai instrumen strategis dalam memperkuat kohesi sosial, ketahanan wilayah, dan rasa kebangsaan.
Prosesi diawali dengan serah terima Air Suci Sendang Sinawah dari Kepala Desa Kronggen kepada Kepala Desa Karangsari, untuk selanjutnya diserahkan kepada Camat Grobogan. Rangkaian acara berlangsung di Joglo Geopark Desa Karangsari, sebuah ruang simbolik yang merepresentasikan pertemuan antara tradisi, alam, dan struktur pemerintahan lokal. Ritual ini merupakan bagian integral dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Grobogan ke-300 yang diperingati pada 4 Maret 2026.
Dalam kosmologi Jawa, sendang atau mata air tidak hanya dipahami sebagai sumber kehidupan fisik, tetapi juga sebagai simbol kesucian, keseimbangan kosmik, dan keberlanjutan sejarah. Air suci dari Sendang Sinawah, yang dikenal sebagai salah satu sendang bersejarah di Grobogan, selanjutnya disatukan dengan tujuh sumber mata air lain dari berbagai wilayah di kabupaten tersebut. Penyatuan ini merepresentasikan makna persatuan, keberkahan, serta harmoni antara manusia, alam, dan tata pemerintahan.
Setelah prosesi serah terima, kirab dilanjutkan menuju Pendopo Kecamatan Grobogan. Di tempat inilah tujuh mata air disatukan dan digunakan dalam prosesi wijian, yakni ritual pencucian pusaka yang sarat makna simbolik tentang legitimasi moral, kontinuitas kepemimpinan, dan cita-cita kemakmuran daerah. Tradisi wijian, yang berakar dalam budaya keraton Jawa, menempatkan pusaka sebagai representasi nilai-nilai kebajikan, kewibawaan, dan tanggung jawab kepemimpinan.
Sertu Hanafi menegaskan bahwa prosesi kirab budaya ini mencerminkan keteguhan masyarakat Grobogan dalam merawat identitas budaya yang diwariskan oleh leluhur. Menurutnya, pelestarian tradisi bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan investasi sosial untuk memperkuat karakter bangsa.
“Prosesi ini adalah warisan budaya leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Sebagai generasi penerus, kita memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ujar Sertu Hanafi.
Ia menambahkan bahwa kehadiran Babinsa dalam kirab budaya tidak hanya bertujuan menjamin keamanan dan kelancaran kegiatan, tetapi juga merupakan bagian dari pembinaan teritorial TNI. Pengawalan ritual adat dipandang sebagai strategi humanis dalam membangun kedekatan emosional antara aparat negara dan masyarakat, sekaligus memperkuat sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan elemen sosial.
Dalam perspektif kehumasan TNI–Polri, kirab Air Suci Sendang Sinawah menjadi contoh konkret bagaimana pendekatan keamanan berbasis budaya dapat menciptakan stabilitas sosial yang berkelanjutan. Tradisi lokal tidak diposisikan sebagai entitas yang terpisah dari negara, melainkan sebagai modal sosial yang memperkuat ketahanan nasional dari tingkat lokal.
Momentum peringatan Hari Jadi Kabupaten Grobogan ke-300 melalui ritual adat ini juga menjadi ruang refleksi sejarah dan konsolidasi identitas daerah. Di dalamnya, nilai-nilai budaya Jawa klasik, struktur pemerintahan modern, dan peran aparat negara berpadu dalam satu narasi kebangsaan yang utuh.
Prosesi kirab Air Suci Sendang Sinawah pada akhirnya bukan hanya peristiwa budaya, melainkan juga pesan simbolik tentang pentingnya harmoni antara tradisi dan modernitas, antara kearifan lokal dan tata kelola negara, serta antara aparat
keamanan dan masyarakat. Di Grobogan, tradisi leluhur tidak sekadar diwariskan, tetapi dihidupkan kembali sebagai sumber inspirasi bagi pembangunan sosial, budaya, dan kebangsaan Indonesia.Punkasnya,Shabar.aji.





