MNI|DEMAK – Bencana banjir yang melanda Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak sejak awal April 2026 kembali menegaskan rapuhnya sistem mitigasi bencana di wilayah rawan hidrologis, sekaligus menguji ketahanan sosial masyarakat. Di tengah situasi tersebut, gerakan kemanusiaan berbasis masyarakat sipil mengambil peran strategis dalam merespons cepat kebutuhan dasar warga terdampak.
Luapan Sungai Tuntang yang disertai jebolnya tanggul di tiga titik, dipicu intensitas hujan tinggi serta kiriman debit air dari wilayah hulu seperti Salatiga, Kabupaten Semarang, dan Grobogan, telah menyebabkan dampak destruktif yang signifikan. Data lapangan mencatat satu korban jiwa, tujuh rumah warga roboh, puluhan lainnya rusak berat, ribuan rumah terendam, serta sekitar 400 hektare lahan pertanian terdampak genangan. Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo, menjadi salah satu episentrum kerusakan terparah.
Merespons kondisi tersebut, Nurbani Humanity Foundation (NHF) di bawah naungan Yayasan Nurul Burhan Arrabbani (YNBA) bergerak cepat menyalurkan bantuan kemanusiaan. Sejak 6 April 2026, tim relawan telah turun langsung ke lokasi bencana untuk mendistribusikan makanan siap saji dan paket sembako kepada warga terdampak.
Tidak berhenti pada respons awal, pada hari berikutnya NHF kembali menggandeng delapan SPPG mitra YNBA serta Yayasan Baitussalam Kradenan (YBSK) dalam memperluas distribusi bantuan. Kolaborasi ini menyalurkan logistik berupa makanan siap saji, mie instan, dan kebutuhan pokok lainnya sebagai bentuk intervensi darurat untuk menjaga ketahanan pangan warga di tengah krisis.
Direktur NHF, Haryanto, menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat Guntur. Ia menegaskan bahwa bantuan yang disalurkan merupakan bagian dari komitmen kemanusiaan untuk meringankan beban korban, sekaligus memastikan keberlangsungan kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi.
Namun demikian, dalam perspektif kehumasan sosial yang kritis, respons cepat dari lembaga non-pemerintah ini sekaligus menjadi refleksi atas pentingnya penguatan sistem penanggulangan bencana yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Bencana yang berulang di wilayah Demak menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap tata kelola lingkungan, infrastruktur pengendali banjir, serta koordinasi lintas wilayah hulu-hilir.
Ketua Umum YNBA, Farrel Husein Al Kaafy, menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya fokus pada bantuan darurat, tetapi juga menyiapkan langkah lanjutan berupa dukungan pemulihan, termasuk kemungkinan pembangunan kembali rumah warga yang roboh.
“Kami akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Bantuan makanan dari mitra SPPG akan terus disalurkan, dan jika diperlukan, kami siap terlibat dalam proses rehabilitasi hunian warga,” ujarnya.
Senada, Ketua Pembina YNBA, Ahmad Salim, menekankan pentingnya optimalisasi seluruh sumber daya organisasi agar bantuan dapat tersalurkan secara efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Ia juga memandang bencana ini sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas sosial lintas elemen masyarakat.
Sementara itu, Ketua Yayasan Baitussalam Kradenan, Syaidun, menilai bahwa kehadiran lembaga kemanusiaan di lokasi bencana bukan sekadar aksi filantropi, melainkan manifestasi tanggung jawab kolektif dalam menghadapi krisis sosial.
“Bencana ini adalah panggilan moral bagi kita semua untuk hadir dan saling menguatkan. Tidak hanya pada fase tanggap darurat, tetapi juga dalam proses pemulihan jangka panjang,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia mengajak masyarakat luas untuk memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial sebagai fondasi utama dalam menghadapi bencana yang kian kompleks akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Kerugian material yang besar akibat banjir di Trimulyo menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak dapat bersifat reaktif semata. Diperlukan pendekatan sistemik yang mencakup mitigasi, adaptasi, serta pembangunan infrastruktur yang resilien terhadap perubahan iklim.
Melalui gerakan kolaboratif antara Nurbani Humanity Foundation, Yayasan Nurul Burhan Arrabbani, dan Yayasan Baitussalam Kradenan, diharapkan proses pemulihan masyarakat terdampak dapat berjalan lebih cepat, sekaligus menjadi inspirasi bagi penguatan solidaritas sosial nasional dalam menghadapi bencana kemanusiaan.
punkasnya,kerja tim.



