MNI|PATI, Jawa Tengah — Aparat Kepolisian Resor Kota (Polresta) Pati bergerak cepat merespons bencana angin puting beliung yang menerjang wilayah Dukuh Poncomulyo, Desa Gadudero, Kecamatan Sukolilo, Sabtu (11/4/2026) sore. Fenomena cuaca ekstrem yang terjadi secara tiba-tiba tersebut mengakibatkan kerusakan signifikan pada sektor peternakan warga, khususnya kandang ayam, dengan estimasi kerugian mencapai miliaran rupiah.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 16.30 WIB itu ditandai dengan hujan deras berintensitas tinggi disertai angin kencang, sebagaimana pola cuaca ekstrem yang kerap diperingatkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Dalam kurun waktu kurang dari satu jam, pusaran angin puting beliung menerjang kawasan peternakan, merobohkan sedikitnya empat unit kandang ayam milik warga hingga mengalami kerusakan berat.
Kapolresta Pati melalui Kapolsek Sukolilo, AKP Sahlan, mengungkapkan bahwa kejadian bermula dari perubahan cuaca ekstrem yang berlangsung sangat cepat. “Hujan lebat yang disertai angin kencang datang secara mendadak, sehingga kandang-kandang ayam tidak mampu menahan terpaan angin dan mengalami kerusakan cukup parah,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Merespons laporan masyarakat, jajaran kepolisian melalui Bhabinkamtibmas setempat bersama piket Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) yang dipimpin KSPK I langsung turun ke lokasi kejadian. Langkah cepat tersebut merupakan bagian dari fungsi perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam situasi darurat kebencanaan.
Dari hasil pendataan sementara, empat kandang ayam dilaporkan rusak berat pada bagian atap dan struktur bangunan. Selain itu, sekitar 30.000 ekor ayam terdampak, baik akibat kerusakan kandang maupun tekanan cuaca ekstrem yang menyebabkan tingkat stres hingga kematian ternak.
Secara kumulatif, kerugian material diperkirakan mencapai Rp6 miliar untuk kerusakan infrastruktur kandang, ditambah sekitar Rp800 juta dari kerugian sektor ternak. Nilai tersebut mencerminkan dampak ekonomi yang cukup signifikan bagi para peternak di wilayah tersebut.
Meski demikian, aparat memastikan tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa ini. Kepolisian bersama unsur terkait langsung melakukan upaya evakuasi, pembersihan puing, serta membantu warga dalam penanganan awal pascabencana. Sinergitas lintas sektor, termasuk unsur pemerintah desa dan masyarakat, menjadi kunci dalam percepatan pemulihan kondisi di lapangan.
Dalam perspektif mitigasi bencana, fenomena puting beliung merupakan bagian dari dinamika atmosfer lokal yang umumnya terjadi pada masa peralihan musim (pancaroba). Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat muncul tanda-tanda cuaca ekstrem seperti awan cumulonimbus, angin kencang mendadak, serta hujan lebat dalam durasi singkat.
AKP Sahlan juga menegaskan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam sistem pelaporan dini. “Kami mengimbau warga agar segera melapor apabila terjadi kondisi darurat atau potensi bencana, sehingga dapat segera ditindaklanjuti oleh aparat,” tegasnya.
Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya kesiapsiagaan kolektif dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi, sekaligus memperlihatkan kehadiran negara melalui aparat kepolisian dalam memberikan respons cepat, perlindungan, serta dukungan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak.
Punkasnya,Aji.tim.



