MNI|DEMAK – Upaya membangun komunikasi publik yang inklusif serta memperkuat kohesi sosial di kalangan generasi muda terus diintensifkan oleh jajaran kepolisian. Hal ini tercermin dalam kegiatan halal bihalal yang diselenggarakan oleh Polres Demak bersama mahasiswa dan organisasi kepemudaan se-Kabupaten Demak di Aula Wicaksana Laghawa, Selasa (7/4/2025). Agenda tersebut menjadi ruang strategis dalam memperkuat sinergi lintas elemen guna menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kondusif dan berkelanjutan.
Kegiatan ini dihadiri oleh spektrum organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan yang memiliki basis sosial dan intelektual kuat, antara lain HMI Demak, PC PMII Demak, Karang Taruna Kabupaten Demak, Pemuda Muhammadiyah, serta perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk BEM STAI IC dan BEM Unisfat, juga IPNU Kabupaten Demak. Turut hadir pula Pejabat Utama (PJU) Polres Demak.
Kapolres Demak, Arrizal Samelino Gandasaputra, dalam sambutan bernuansa reflektif menegaskan bahwa halal bihalal tidak sekadar ritual kultural tahunan, melainkan instrumen sosial untuk merekonstruksi relasi antarelemen masyarakat. Menurutnya, momentum tersebut menjadi sarana rekonsiliasi sosial yang mampu mereduksi sekat-sekat perbedaan sekaligus memperkuat nilai persaudaraan kebangsaan.
“Halal bihalal merupakan ruang etik dan kultural untuk membersihkan residu sosial yang mungkin timbul akibat perbedaan pandangan. Di titik ini, kita merajut kembali kohesi, menurunkan ego sektoral, dan menyatukan orientasi dalam kerangka kepentingan bangsa yang lebih luas,” ungkapnya.
Dalam perspektif yang lebih luas, Kapolres juga menyoroti kompleksitas tantangan di era digital yang ditandai dengan disrupsi informasi. Ia menggarisbawahi bahwa dinamika sosial saat ini tidak jarang dipicu oleh disinformasi yang menyebar secara masif, konflik identitas berbasis kelompok, hingga pola gangguan kamtibmas yang bersifat repetitif namun dapat dipetakan secara preventif.
“Perkembangan teknologi informasi membawa implikasi ganda. Di satu sisi memberikan akselerasi kemudahan, namun di sisi lain berpotensi memantik konflik horizontal yang berangkat dari narasi yang belum terverifikasi. Oleh karena itu, diperlukan literasi digital yang kuat serta kedewasaan kolektif dalam merespons setiap dinamika,” tegasnya.
Munthohar.





