Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Departemen Pengelolaan Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Produksi, Didiet Widhy Hidayat, didampingi Kepala Seksi Utama Bidang Perlindungan Sumber Daya Hutan (SDH). Monitoring dipusatkan di Pos Keamanan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Ngaren, wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kedungcumpleng, sebagai salah satu titik strategis pengamanan kawasan hutan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Administratur KPH Telawa, jajaran Asisten Perhutani/Kepala BKPH, Kepala RPH (KRPH), hingga Komandan Regu Polisi Hutan Mobile (Danru Polhutmob). Keterlibatan lintas unsur ini mencerminkan pendekatan kolaboratif dalam sistem pengamanan hutan yang terintegrasi, adaptif, dan responsif terhadap dinamika lapangan.
Secara substantif, monitoring ini difokuskan pada evaluasi kesiapan personel selama masa libur dan pasca Lebaran yang dinilai sebagai periode rawan terhadap potensi gangguan keamanan hutan (gukamhut), meliputi praktik ilegal seperti pencurian kayu, perambahan kawasan, hingga ancaman kebakaran hutan.
Dalam pelaksanaannya, tim monitoring melakukan verifikasi langsung terhadap kehadiran petugas, ketepatan jadwal piket, serta kesiapan sarana dan prasarana pendukung pengamanan. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi preventif berbasis manajemen risiko guna memastikan tidak adanya celah dalam sistem pengamanan kawasan hutan.
“Monitoring ini menjadi instrumen penting dalam memastikan seluruh jajaran tetap berada dalam kondisi siaga, disiplin, dan memiliki respons cepat terhadap setiap potensi gangguan keamanan hutan, khususnya pada momentum pasca Lebaran yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi,” ujar Didiet Widhy Hidayat dalam arahannya.
Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan inovasi di bidang perlindungan hutan, dalam kesempatan tersebut juga diserahkan piagam penghargaan kepada KPH Telawa sebagai Juara I kategori dokumentasi foto pengamanan hutan. Penghargaan ini tidak hanya menjadi simbol capaian kinerja, namun juga motivasi untuk terus meningkatkan profesionalisme dalam menjaga sumber daya hutan.
Sementara itu, Administratur/Kepala KPH Telawa Heri Nur Afandi melalui Wakil Administratur KSKPH Julie Irahadi menegaskan bahwa pihaknya telah mengimplementasikan berbagai langkah antisipatif secara sistematis dan berkelanjutan.
“Kami telah mengoptimalkan pola pengamanan berbasis piket di seluruh BKPH dengan penugasan personel secara terstruktur, serta memperkuat koordinasi internal guna meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan keamanan hutan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Julie menekankan pentingnya pendekatan komunikasi sosial dengan masyarakat sekitar kawasan hutan sebagai bagian dari strategi deteksi dini. Melalui sinergi tersebut, diharapkan dapat meminimalisasi potensi konflik serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan.
Senada dengan itu, Kepala Seksi Utama Bidang Perlindungan SDH, Rastim, mengingatkan seluruh jajaran agar tetap menjaga konsistensi kesiapsiagaan dan memperkuat kerja sama lintas sektor.
“Sinergitas dan kedisiplinan adalah fondasi utama dalam sistem pengamanan hutan. Setiap personel harus mampu mengantisipasi secara dini segala potensi gangguan, sehingga stabilitas kawasan tetap terjaga secara optimal,” tegasnya.
Melalui kegiatan monitoring terpadu ini, Perum Perhutani KPH Telawa kembali menegaskan perannya sebagai garda terdepan dalam pengelolaan hutan negara yang profesional dan berkelanjutan. Pendekatan tidak hanya difokuskan pada aspek pengamanan fisik, tetapi juga diperkuat dengan strategi sosial melalui komunikasi dan edukasi kepada masyarakat.
Dengan demikian, diharapkan pengelolaan hutan di wilayah KPH Telawa dapat terus berjalan secara
aman, kondusif, serta memberikan manfaat ekologis dan ekonomis yang berkelanjutan bagi negara dan masyarakat luas.Punkasnya,kerja,Tim.




