Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dua Remaja Tenggelam di Batealit, Bupati Jepara Pimpin Langsung Evakuasi, BPBD Tegaskan Kewaspadaan di Wisata Alam

Sabtu, 28 Maret 2026 | Maret 28, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-28T14:24:34Z

MNI|Jepara — Peristiwa tragis menimpa dua remaja di kawasan wisata Air Terjun Watu Bobot, Desa Somosari, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, pada Sabtu (28/3/2026). Insiden tenggelam yang terjadi di salah satu destinasi wisata alam tersebut kembali menjadi pengingat serius akan pentingnya aspek keselamatan dalam aktivitas rekreasi berbasis alam terbuka.

Berdasarkan laporan resmi yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara sekitar pukul 09.00 WIB, kejadian diperkirakan berlangsung lebih awal, yakni sekitar pukul 08.30 WIB saat kedua korban tengah beraktivitas di area aliran air terjun. Kedua korban diketahui berinisial M (18) dan A (18), warga Desa Bawu, Kecamatan Batealit.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Bupati Jepara Witiarso Utomo menunjukkan respons cepat dan kepemimpinan lapangan dengan turun langsung ke lokasi kejadian bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Akses menuju lokasi yang cukup sulit, dengan jarak sekitar dua kilometer dari Kantor Kecamatan Batealit dan tidak dapat dijangkau kendaraan roda empat, tidak menghalangi upaya tersebut. Rombongan harus menggunakan sepeda motor dan dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus medan terjal untuk mencapai titik kejadian.

Proses pencarian dan evakuasi dilakukan secara terpadu oleh tim gabungan yang terdiri dari personel BPBD, relawan SAR, serta unsur masyarakat setempat. Upaya penyelaman menjadi langkah krusial mengingat kondisi kedalaman air serta karakteristik arus bawah yang cukup kuat di lokasi tersebut.

Korban pertama berhasil ditemukan sekitar pukul 11.30 WIB di sekitar titik awal tenggelam dengan bantuan alat jangkar. Sementara itu, korban kedua ditemukan tidak lama berselang, sekitar 10 menit kemudian, oleh tim penyelam yang menyisir area sekitar dengan intensitas tinggi.


Kepala Pelaksana BPBD Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, menjelaskan bahwa kondisi alam di lokasi kejadian memiliki potensi risiko yang kerap tidak disadari pengunjung, khususnya terkait arus bawah yang kuat dan tidak terlihat dari permukaan.

“Karakteristik arus bawah di lokasi cukup deras dan menjadi salah satu faktor yang menyulitkan proses evakuasi. Ini juga menjadi risiko utama bagi pengunjung yang kurang memahami kondisi medan,” ungkapnya.

Dalam perspektif kehumasan dan mitigasi bencana, BPBD Jepara menegaskan pentingnya peningkatan literasi keselamatan bagi masyarakat, terutama di kawasan wisata alam yang memiliki variabel risiko tinggi. Kedalaman air yang tidak merata, bebatuan licin, serta potensi pusaran air menjadi faktor yang harus diantisipasi secara serius oleh setiap pengunjung.


Bupati Witiarso Utomo dalam keterangannya juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan tidak mengabaikan aspek keselamatan saat berwisata, khususnya di area air terjun dan sungai alami yang belum sepenuhnya memiliki sistem pengamanan memadai.

“Keselamatan adalah prioritas utama. Kami mengimbau seluruh masyarakat dan wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan serta mematuhi rambu dan imbauan yang ada di lokasi wisata,” tegasnya.

Peristiwa ini sekaligus menjadi refleksi bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait untuk memperkuat sistem mitigasi risiko, termasuk penyediaan sarana prasarana keselamatan, papan informasi bahaya, serta pengawasan di destinasi wisata alam.

Dengan kejadian ini, BPBD bersama pemerintah daerah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun kesadaran kolektif terhadap keselamatan, guna mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.

Punkasnya,Aji.tim.

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update