Komandan Kodim 0717/Grobogan Letkol Inf Wefri Sandiyanto bersama Kapolres Grobogan AKBP Ike Yulianto Wicaksono, SH., S.I.K., MH., didaulat sebagai Manggolo Yudho, figur panglima perang dalam tradisi kirab budaya Jawa. Keduanya tampil gagah dan berwibawa dengan menunggang kuda, memimpin arak-arakan dari Kantor Kelurahan Grobogan menuju Pendopo Kabupaten di Jalan Gatot Soebroto No. 6 Purwodadi.
Peran Manggolo Yudho dalam kirab tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan representasi keteguhan, keberanian, serta kesiapsiagaan aparat dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Kehadiran unsur TNI-Polri dalam balutan budaya lokal mempertegas sinergitas lintas sektor sebagai pilar utama ketahanan daerah, sekaligus manifestasi komitmen negara dalam mengawal pembangunan hingga ke akar rumput.
Bupati Grobogan beserta Wakil Bupati dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turut mengenakan busana adat Jawa yang lazim digunakan dalam seremoni penting pemerintahan. Nuansa tradisional yang kental menghadirkan atmosfer sakral sekaligus mempertegas identitas kultural Kabupaten Grobogan sebagai entitas yang berakar kuat pada nilai-nilai luhur warisan leluhur.
Dalam sambutannya, Bupati Grobogan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat atas dukungan dan partisipasi aktif dalam melestarikan budaya daerah. Ia menegaskan bahwa peringatan tiga abad Kabupaten Grobogan bukan semata perayaan seremonial, melainkan refleksi historis atas jasa para pemimpin terdahulu yang telah meletakkan fondasi pembangunan.
Mengusung tema “Nyawiji Mbangun Deso Noto Kutho”, peringatan HUT ke-300 ini mengandung filosofi persatuan dan kebersamaan sebagai kekuatan utama dalam membangun desa serta menata kota. “Dengan bersatu kita menjadi kuat, bersama-sama kompak dalam membangun Kabupaten Grobogan,” tegasnya.
Suasana di Pendopo Kabupaten semakin semarak dengan kehadiran Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sudaryono, yang merupakan putra asli Grobogan. Kehadiran pejabat nasional tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat setempat, sekaligus menandakan perhatian pemerintah pusat terhadap potensi strategis sektor pertanian di wilayah ini.
Dalam keterangannya, Sudaryono menyampaikan rasa bangga dapat turut mengikuti prosesi Boyong Grobog yang dinilainya sakral dan sarat nilai sejarah. Ia menyebut partisipasinya dalam kirab tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap akar budaya sekaligus komitmen moral untuk berkontribusi bagi kemajuan daerah kelahirannya.
Ribuan warga memadati sepanjang rute kirab, menunjukkan antusiasme tinggi dalam menyambut perayaan tiga abad Kabupaten Grobogan. Masyarakat dari berbagai kalangan tampak berjajar dengan tertib, mengabadikan momen menggunakan perangkat telepon pintar mereka. Kehadiran publik secara masif mencerminkan kuatnya ikatan emosional antara masyarakat dengan sejarah dan identitas daerahnya.
Prosesi ditutup dengan tradisi gunungan berisi hasil bumi sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur atas limpahan rezeki serta potensi agraris Grobogan. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi atraksi budaya, melainkan juga pengingat akan karakter utama daerah sebagai lumbung pangan yang berperan strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Kirab Budaya Boyong Grobog tahun ini menjadi representasi harmonisasi antara nilai tradisi, kepemimpinan pemerintahan, serta sinergi aparat negara dalam menjaga stabilitas sosial. Pada usia tiga abad, Kabupaten Grobogan meneguhkan diri sebagai daerah yang berpijak pada kearifan lokal namun tetap progresif dalam menyongsong tantangan pembangunan modern di era transformasi nasional.Punkasnya,Shabar.mukti.




