Kegiatan tersebut dilaksanakan di kawasan wisata sejarah Benteng Willem I, Ambarawa, Kabupaten Semarang, pada Sabtu (7/2/2026). Pemilihan ruang publik bernilai historis ini menegaskan orientasi Polres Semarang dalam menghadirkan pesan keselamatan lalu lintas secara kontekstual, inklusif, dan dekat dengan realitas sosial masyarakat.
Pendekatan berbasis seni budaya—yang dikenal sebagai konsep “Police Art”—merefleksikan transformasi strategi komunikasi kepolisian menuju model yang lebih humanis dan partisipatif. Melalui perpaduan edukasi lalu lintas dan ekspresi budaya, Polres Semarang menghadirkan format sosialisasi yang persuasif sekaligus memperkuat relasi institusional antara Polri dan masyarakat sebagai mitra dalam menjaga keselamatan publik.
Kegiatan sosialisasi ini diselenggarakan oleh Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Semarang dalam rangka Operasi Keselamatan Candi 2026 yang berlangsung pada 2–15 Februari 2026. Operasi ini merupakan bagian dari kebijakan nasional Kepolisian Republik Indonesia dalam menciptakan kondisi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (kamseltibcarlantas), khususnya menjelang meningkatnya mobilitas masyarakat menuju Ramadan dan Idulfitri.
Dalam implementasinya, sosialisasi dikemas melalui pertunjukan seni dan budaya yang atraktif, dialog edukatif dengan masyarakat, serta distribusi selebaran dan stiker keselamatan berlalu lintas kepada pengunjung kawasan wisata. Pola komunikasi ini dirancang untuk menghadirkan pesan keselamatan lalu lintas secara komunikatif, mudah dipahami, dan relevan dengan dinamika kehidupan masyarakat.
Kapolres Semarang melalui jajaran Satlantas menegaskan bahwa keselamatan berlalu lintas tidak semata-mata merupakan persoalan teknis, melainkan bagian integral dari etika sosial dan tanggung jawab kolektif. Dalam konteks menjelang Ramadan, tertib berlalu lintas dipandang sebagai manifestasi nilai kedisiplinan, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama, yang selaras dengan spirit moral dan sosial bulan suci.
Selain sosialisasi berbasis budaya, Polres Semarang juga menggelar apel gelar pasukan sebagai simbol kesiapan operasional dalam pelaksanaan Operasi Keselamatan Candi 2026. Apel tersebut menjadi momentum konsolidasi internal sekaligus penegasan komitmen institusional Polri dalam menjalankan fungsi preventif, edukatif, dan penegakan hukum secara profesional, proporsional, dan berorientasi pada keselamatan publik.
Apel gelar pasukan juga menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor antara kepolisian, pemerintah daerah, komunitas masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya. Sinergi ini dipandang sebagai prasyarat strategis dalam membangun budaya tertib berlalu lintas yang berkelanjutan, tidak hanya melalui pendekatan represif, tetapi juga melalui edukasi dan partisipasi publik.
Lebih jauh, pelaksanaan sosialisasi di ruang publik seperti Benteng Willem I Ambarawa memiliki makna simbolik. Ruang sejarah yang merepresentasikan memori kolektif dan dinamika sosial kontemporer dijadikan medium komunikasi publik, sehingga pesan keselamatan lalu lintas tidak hadir sebagai instruksi normatif semata, melainkan sebagai bagian dari narasi kebudayaan dan identitas sosial masyarakat.
Melalui strategi komunikasi berbasis seni budaya, Polres Semarang berupaya memperluas jangkauan edukasi keselamatan lalu lintas, khususnya kepada generasi muda dan komunitas wisata. Pendekatan ini menegaskan bahwa Polri tidak hanya berperan sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai agen edukasi sosial yang adaptif terhadap perubahan pola interaksi masyarakat.
Operasi Keselamatan Candi 2026 sendiri difokuskan pada upaya pencegahan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas melalui kombinasi tindakan preemtif, preventif, dan represif. Sasaran operasi meliputi pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal, seperti tidak menggunakan helm, melawan arus, penggunaan telepon seluler saat berkendara, pengendara di bawah umur, pelanggaran batas kecepatan, serta perilaku berkendara yang tidak sesuai ketentuan.
Dengan pendekatan yang humanis dan komunikatif, Polres Semarang menargetkan Operasi Keselamatan Candi 2026 tidak hanya menghasilkan penurunan angka pelanggaran lalu lintas, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap keselamatan sebagai nilai fundamental dalam kehidupan publik.
Menjelang Ramadan, Polres Semarang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan tertib berlalu lintas sebagai bagian dari praktik etika sosial dan spiritual. Keselamatan di jalan raya, dalam perspektif ini, bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, melainkan wujud tanggung jawab moral dalam menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain.
Melalui sinergi antara institusi kepolisian, komunitas budaya, dan masyarakat luas, Polres Semarang menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang lalu lintas yang aman, tertib, dan beradab. Upaya ini diharapkan menjadi fondasi strategis dalam menciptakan iklim mobilitas yang selamat, inklusif, dan bermartabat, seiring dengan meningkatnya aktivitas sosial masyarakat menjelang bulan suci Ramadan
Punkasnya,Sutrisno.mukti.



