Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Grebeg Besar Demak Dijaga Ketat, Sinergi Aparat dan Masyarakat Jaga Tradisi Religi Tetap Kondusif

Rabu, 27 Mei 2026 | Mei 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-27T10:40:34Z


MNI|Demak — Tradisi budaya dan religi tahunan Grebeg Besar di Demak kembali menjadi magnet spiritual dan kebudayaan yang menyedot ribuan masyarakat dari berbagai daerah. Dalam momentum perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, aparat keamanan menerapkan pengamanan ketat guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan kondusif di tengah tingginya antusiasme masyarakat serta peziarah yang memadati Kota Wali.

Sebanyak 500 personel gabungan diterjunkan untuk mengawal pelaksanaan berbagai agenda sakral dan budaya, mulai dari kirab Tumpeng Sembilan, tradisi ancakan, hingga prosesi penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga berupa Ageman Kutang Anta Kusuma dan Keris Kiai Carubuk yang dilaksanakan bertepatan dengan 10 Dzulhijah atau Hari Raya Idul Adha.

Pengamanan besar tersebut melibatkan unsur lintas sektoral yang terdiri dari personel Polres Demak, Kodim 0716/Demak, Satpol PP, Dinas Perhubungan, PMI, hingga instansi pendukung lainnya. Kolaborasi lintas lembaga itu dinilai menjadi representasi nyata sinergitas pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas keamanan sekaligus melestarikan tradisi budaya warisan leluhur.

Kepala Bagian Operasional Polres Demak, Kompol Wasito, menegaskan bahwa pengamanan dilakukan secara maksimal mengingat Grebeg Besar bukan hanya agenda budaya biasa, melainkan peristiwa religius yang memiliki nilai historis tinggi bagi masyarakat Demak dan umat Islam pada umumnya.

“Dalam pengamanan ini kami menurunkan 300 personel Polres Demak dan dibantu instansi terkait untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan lancar,” ujar Kompol Wasito saat memimpin apel pengamanan di kawasan Parkir Wisata Kadilangu, Rabu (27/5/2026).

Menurutnya, tradisi kirab Tumpeng Sembilan merupakan simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat Demak yang diwariskan secara turun-temurun. Sembilan tumpeng berisi hasil bumi serta aneka makanan diarak oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Demak menuju Masjid Agung Demak sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai spiritual dan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa.

Nuansa religius semakin terasa melalui tradisi ancakan yang menjadi bentuk sedekah dari ahli waris Sunan Kalijaga kepada masyarakat dan peziarah. Tradisi tersebut menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan karena merefleksikan semangat berbagi, kebersamaan sosial, dan penguatan hubungan spiritual antara masyarakat dengan warisan para wali.

Sementara itu, prosesi penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga di Pendopo Notobratan Kadilangu juga menjadi perhatian utama aparat keamanan. Ritual sakral tersebut tidak hanya dipandang sebagai tradisi budaya, namun juga simbol penghormatan terhadap sejarah perjuangan dakwah Islam di Nusantara.

Tingginya mobilitas masyarakat selama Grebeg Besar membuat aparat meningkatkan pola pengamanan di sejumlah titik strategis. Personel ditempatkan secara terbuka maupun tertutup untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), mulai dari pencopetan, pencurian kendaraan bermotor, hingga aksi kriminalitas lain yang rawan terjadi di tengah kerumunan massa.

Polisi juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap barang bawaan dan kendaraan pribadi selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Kesadaran kolektif masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi seluruh pengunjung.

Tidak hanya fokus pada kegiatan budaya dan religi, pengamanan juga diperluas ke kawasan Pasar Rakyat di Lapangan Tembiring Jogoloyo yang menjadi pusat hiburan masyarakat dan aktivitas pelaku UMKM lokal. Kehadiran pasar rakyat tersebut memberi dampak positif terhadap perputaran ekonomi warga, khususnya sektor usaha kecil dan perdagangan musiman yang tumbuh selama perayaan Grebeg Besar berlangsung.

Aparat keamanan mengantisipasi lonjakan pengunjung di area hiburan rakyat yang setiap malam dipadati masyarakat. Langkah preventif dilakukan untuk mencegah potensi kericuhan maupun gangguan ketertiban yang dapat mengganggu kenyamanan pengunjung.

“Pasar Rakyat ini juga menjadi bagian dari rangkaian Grebeg Besar Demak yang harus kami amankan agar masyarakat merasa aman dan nyaman. Kami berharap seluruh warga ikut menjaga keamanan dan ketertiban bersama,” tambah Kompol Wasito.

Pengamanan Grebeg Besar tahun ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari stabilitas keamanan dan partisipasi masyarakat. Tradisi yang telah mengakar selama ratusan tahun tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang spiritual, sosial, dan ekonomi yang memperkuat identitas religius masyarakat Demak sebagai Kota Wali.

Di tengah arus modernisasi, Grebeg Besar tetap menjadi simbol harmoni antara budaya, dakwah, dan persatuan masyarakat. Kehadiran aparat keamanan yang humanis sekaligus siaga menjadi bagian penting dalam menjaga marwah tradisi agar tetap hidup, aman, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Punkasnya,Muntohar,

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update