Melonjaknya debit air yang berasal dari hulu, khususnya kawasan Bendungan Glapan di Kabupaten Grobogan, memperparah tekanan terhadap tanggul yang akhirnya tidak mampu menahan laju air. Akibatnya, arus deras dengan cepat merendam rumah warga, lahan pertanian produktif, serta infrastruktur jalan penghubung antar desa, menciptakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan lintas sektor secara simultan.
Dalam situasi tersebut, Polres Demak mengerahkan ratusan personel Pasukan Siaga Bhayangkara untuk melakukan langkah-langkah penanganan terpadu, dengan fokus utama pada evakuasi warga terdampak serta pengamanan wilayah. Upaya ini dilakukan secara kolaboratif bersama unsur relawan, perangkat desa, serta masyarakat setempat yang turut bahu-membahu dalam menghadapi bencana.
Kepala Bagian Operasional Polres Demak, Kompol Wasito, menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam setiap langkah penanganan yang dilakukan di lapangan. Ia menyampaikan bahwa proses evakuasi terus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi keselamatan dan aksesibilitas di lokasi terdampak.
“Fokus utama kami adalah menyelamatkan warga. Evakuasi terus kami lakukan ke titik-titik aman yang telah disiapkan, sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan maksimal dalam kondisi darurat ini,” ujarnya di sela kegiatan penanganan di lokasi banjir.
Sejumlah warga yang terdampak kini telah dievakuasi ke tempat penampungan sementara, di antaranya Balai Desa serta fasilitas Koperasi Desa Merah Putih yang difungsikan sebagai pos pengungsian darurat. Di lokasi tersebut, aparat bersama relawan juga memberikan pendampingan sosial guna memastikan kebutuhan dasar para pengungsi tetap terpenuhi.
Tidak hanya fokus pada evakuasi, personel kepolisian juga turut membantu warga dalam menyelamatkan barang-barang berharga guna menekan potensi kerugian material. Langkah ini menjadi bagian dari pendekatan humanis dalam penanganan bencana, di mana aparat hadir tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai mitra kemanusiaan bagi masyarakat.
Sementara itu, upaya teknis penanganan turut dilakukan dengan menutup titik-titik tanggul yang jebol menggunakan karung berisi tanah sebagai langkah darurat untuk mengendalikan aliran air. Meski bersifat sementara, langkah ini dinilai penting untuk memperlambat laju banjir sembari menunggu penanganan lanjutan dari instansi terkait.
Dalam aspek komunikasi publik, Polres Demak secara aktif memberikan edukasi kepada masyarakat agar tetap tenang namun tidak lengah terhadap potensi risiko lanjutan. Imbauan kewaspadaan terus disampaikan guna mencegah timbulnya kepanikan yang dapat memperburuk situasi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan petugas, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan situasi di lapangan. Keselamatan adalah prioritas bersama,” tegas Kompol Wasito.
Untuk menjaga stabilitas keamanan di tengah kondisi darurat, patroli rutin juga terus digencarkan di wilayah terdampak. Langkah ini dilakukan guna mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas, sekaligus memastikan situasi tetap kondusif selama proses evakuasi dan penanganan berlangsung.
Polres Demak memastikan seluruh personel akan tetap disiagakan penuh hingga kondisi benar-benar terkendali. Koordinasi lintas instansi, termasuk dengan pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya, terus diperkuat guna memastikan penanganan bencana berjalan optimal dan berkelanjutan.
“Kami akan terus memantau dinamika di lapangan serta memperkuat koordinasi dengan seluruh stakeholder. Tujuannya agar penanganan berjalan maksimal dan masyarakat terdampak dapat segera pulih dari situasi ini,” pungkasnya.
Bencana ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya penguatan sistem mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap risiko hidrometeorologi, khususnya di wilayah rawan banjir. Di tengah kondisi yang penuh tantangan,
solidaritas antara aparat, pemerintah, dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam menghadapi dan melewati krisis kemanusiaan ini.
Punkasnya,Munthohar.




