MNI|Temanggung, Jawa Tengah — Puluhan warga yang bermukim di sekitar kawasan industri PT Matratama Mitra Polyester (MMP) di Dusun Pendowo, Desa Pendowo, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, menggelar aksi unjuk rasa pada Selasa (2/12/2025). Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas dugaan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas pabrik kayu lapis dan pengolahan bahan industri yang beroperasi di wilayah tersebut.
Dalam aksi yang berlangsung secara tertib itu, warga menyuarakan keluhan terkait bau tak sedap yang kerap tercium kuat, terutama pada waktu-waktu tertentu, serta dugaan limbah udara yang meluap ke area permukiman. Bau menyengat yang diduga berasal dari proses produksi pabrik dinilai telah mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat sekitar.
Sejumlah warga mengaku mengalami gangguan kesehatan sejak pabrik beroperasi secara intensif. Keluhan yang paling banyak dirasakan antara lain pusing, batuk berkepanjangan, hingga rasa mual akibat menghirup udara yang diduga tercemar. Kondisi tersebut dirasakan semakin parah ketika arah angin mengarah langsung ke kawasan permukiman warga.
“Bau sangat menyengat, seperti asap kimia. Anak-anak dan orang tua sering mengeluh pusing dan batuk. Kami khawatir ini berdampak jangka panjang bagi kesehatan,” ungkap salah satu perwakilan warga saat menyampaikan aspirasi di lokasi aksi.
Warga menilai bahwa aktivitas industri PT MMP belum sepenuhnya memperhatikan aspek perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Mereka mendesak perusahaan untuk bertanggung jawab serta segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengolahan limbah, khususnya limbah udara, agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
Selain itu, warga juga meminta pemerintah daerah dan instansi terkait untuk turun tangan melakukan pengawasan serta uji lingkungan secara transparan. Mereka berharap ada tindakan tegas apabila ditemukan pelanggaran terhadap ketentuan perizinan maupun standar baku mutu lingkungan.
Aksi demonstrasi tersebut mendapat pengawalan aparat kepolisian guna memastikan situasi tetap kondusif dan aspirasi warga dapat tersampaikan dengan aman. Hingga aksi berakhir, demonstrasi berlangsung damai tanpa insiden berarti.
Sementara itu, warga menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ada solusi konkret yang menjamin kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Mereka menegaskan bahwa penolakan bukan ditujukan terhadap keberadaan industri, melainkan terhadap praktik operasional yang dinilai merugikan warga sekitar.
Kasus ini kembali menjadi sorotan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan industri dan perlindungan lingkungan hidup, khususnya di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan permukiman padat penduduk.
Punkas,Kerja. tim.




